News

Miris! Cak Imin Sebut 3-4 Juta Pekerja Migran Indonesia Belum Jadi Peserta BP Jamsostek

Ada tiga hingga empat juta Pekerja Migran Indonesia yang belum menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).


Miris! Cak Imin Sebut 3-4 Juta Pekerja Migran Indonesia Belum Jadi Peserta BP Jamsostek
Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar memberikan keterangan mengenai pemberian nobel di press room, Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (16/2/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar menyebutkan, setidaknya ada tiga hingga empat juta Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang belum menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).

Pria yang akrab disapa Cak Imin itu menerangkan, para PMI yang belum terdaftar itu tersebar di beberapa negara di luar negeri seperti Hong Kong, Taiwan, Malaysia hingga Arab Saudi.

"Warga kita yang berada di luar negeri seperti Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Arab Saudi, dan lain-lain, yang tentu membutuhkan perhatian serius dan belum menjadi peserta BP Jamsostek. Dan jumlahnya tidak kurang dari 3-4 juta jiwa," kata Muhaimin dalam keterangannya, pada Rabu (29/6/2022).

baca juga:

"Percepatan layanan bisa kita lakukan bila BP Jamsostek dan BPJS Kesehatan bekerja dengan cara kerja yang kreatif dan inovatif, agar saudara kita yang menjadi pekerja migran benar benar mendapatkan layanan yang seimbang seperti platform lainnya,” sambungnya. 

Oleh karena itu, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mendorong Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) melakukan percepatan layanan jaminan sosial kepada para PMI di luar negeri.  

Hal itu mesti dilakukan karena DJSN harus membantu pemerintah mewujudkan target 100 persen cakupan jaminan sosial di Indonesia, baik jaminan kesehatan maupun jaminan ketenagakerjaan.

Adapun, kata Cak Imin, percepatan pelayanan bisa dilakukan jika BP Jamsostek dan BPJS Ketenagakerjaan bekerja kreatif dan inovatif. Sebab, kata dia, para pekerja migran saat ini sudah sangat adaptif dengan teknologi. 

“Cara kerja ini harus mulai dari perubahan cara berpikir kita. Cara berpikir kita yang masih memandang para pekerja itu ada di pabrik adalah salah, karena pekerja sudah sangat adaptif dengan teknologi," ucapnya. 

"Sehingga bekerja di profesi apapun, di sektor apapun, di jasa-jasa apapun tidak hanya di pabrik, akan membutuhkan akses pelayanan jaminan sosial yang mudah, efektif, teknologinya kompatibel," tukas dia. []