News

Mirip Genosida, Gempuran Militer Myanmar Tewaskan 80 Orang di Bago

Lebih dari 80 orang tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar dalam tindakan keras terhadap aksi protes di Kota Bago, menurut laporan aktivis.


Mirip Genosida, Gempuran Militer Myanmar Tewaskan 80 Orang di Bago
Aksi protes terus digelar di Bago, Myanmar, sejak kudeta militer pada 1 Februari (BBC)

AKURAT.CO, Lebih dari 80 orang tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar dalam tindakan keras terhadap aksi protes di Kota Bago, menurut laporan aktivis. Militer dikabarkan telah mengambil jenazah korban, sehingga jumlah kematian sebenarnya tak bisa ditentukan secara akurat. Menurut saksi mata, tentara menggunakan senjata berat dan menembak apa pun yang bergerak.

Dilansir dari BBC, militer telah menggunakan kekerasan untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan. Lebih dari 600 orang tewas sejak kudeta militer pada 1 Februari.

Pembantaian terakhir di Bago dilaporkan terjadi pada Jumat (9/4). Namun, butuh waktu seharian untuk mengungkapnya lantaran banyak penduduk terpaksa melarikan diri ke desa-desa terdekat. Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

"Ini seperti genosida. Mereka menembaki setiap bayangan," ujar koordinator aksi protes Ye Htut, seperti yang dikutip oleh Myanmar Now.

Demonstrasi juga digelar di seluruh Myanmar sejak militer berkuasa pada 1 Februari dan menetapkan status darurat selama 1 tahun. Angkatan bersenjata mengklaim telah terjadi kecurangan yang meluas selama Pemilu akhir tahun lalu. Pasalnya, Pemilu tersebut mengembalikan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi ke tampuk kekuasaan.

Pada Jumat (9/4), anggota parlemen yang digulingkan dan duta besar PBB Myanmar meminta anggota Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menindak militer, termasuk memperpanjang sanksi dan memberlakukan embargo senjata dan zona larangan terbang.

Dalam pertemuan PBB itu, muncul peringatan juga bahwa Myanmar berada di ambang kegagalan negara. Menurut penasihat senior International Crisis Group Richard Horsey, tindakan militer tersebut menciptakan situasi di mana negara tidak bisa dikendalikan.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu