Ekonomi

Minta Tambahan Anggaran Rp520 Triliun, Menkeu: Bakal Pertahankan Harga Energi

Menkeu: Oleh karena itu untuk tahun ini kami meminta persetujuan kepada DPR untuk menambah anggaran subsidi dan kompensasi.

Minta Tambahan Anggaran Rp520 Triliun, Menkeu: Bakal Pertahankan Harga Energi
Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan pandangan pemerintah saat rapat paripurna ke-23 masa sidang V tahun 2021-2022 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (24/5/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta penambahan anggaran subsidi energi dan kompensasi untuk tahun ini sebesar Rp520 triliun. Hal tersebut dikarenakan untuk mempertahankan harga jual BBM, LPG, dan listrik dan merupakan konseskuensi pemerintah untuk tidak menaikan harga energi yang saat ini harga-harga dunia melonjak.

“Oleh karena itu untuk tahun ini kami meminta persetujuan kepada DPR untuk menambah anggaran subsidi dan kompensasi,” ucap

Ia menjelaskan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) berperang sebagai shock absorber melindungi masyarakat agar daya belinya tidak tergerus dan melindungi momentum pemulihan ekonomi agar tetap terjaga.

baca juga:

“Berbagai kebijakan untuk melindungi masyarakat seperti melalui skema subsidi dan bantuan sosial terus dilakukan sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi dan menjaga daya beli melalui pengendalian inflasi,” jelasnya.

Upaya pengendalian inflasi telah berhasil menjaga inflasi Indonesia pada level yang relative rendah dibandingkan berbagai negara di dunia.

Sekedar informasi, Bhima Yudhistira, Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies mendukung kebijakan pemerintah untuk menambah subsidi BBM dalam APBN 2022 sebesar Rp71,8 triliun. Pemerintah mengambil sikap untuk menambah subsidi daripada menaikkan harga BBM sebagai bentuk perhatian pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Menurut Bhima, penambahan subsidi BBM sejatinya adalah imbas dari disparitas harga harga BBM subsidi dan nonsubsidi yang terlampu jauh. Harga pertamax dan pertalite selisihnya sangat jauh sehingga terjadi migrasi dari BBM kadar oktan (RON) 92 jenis pertamax ke BBM RON 90, yaitu pertalite.

"Dengan kondisi ini pemerintah harus all out menjaga subsidi energi. Dana masih tersedia asal pemerintah mau fokus ke stabilisasi harga energi sekaligus membantu meringankan cashflow Pertamina," ujar Bhima, Selasa (24/05/2022).

Pemerintah dan Pertamina hingga saat ini kompak untuk tidak menaikkan harga solar subsidi yang hingga kini masih tetap Rp5.150 per liter dan pertalite dipertahankan pada harga Rp7.650 per liter. Padahal harga keekonomian dua jenis BBM itu kini Rp12.119 untuk solar dan Rp12.665 per liter pertalite.

Sementara itu BBM nonsubsidi, yaitu Pertamax Series, harganya ditetapkan oleh badan usaha. Pertamina selaku penjual Pertamax Series diberikan kewenangan menjual harga BBM nonsubsidi tersebut, menaikkan ataupun menurunkannya, sesuai dengan tren harga minyak global dan kurs dollar AS.[]