News

Minta Syarat PCR Penumpang Pesawat Dihapus, YLKI: Diskriminatif dan Memberatkan!

Diskriminatif dan memberatkan konsumen


Minta Syarat PCR Penumpang Pesawat Dihapus, YLKI: Diskriminatif dan Memberatkan!
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) , Tulus Abadi. (Rizal Mahmuddhin)

AKURAT.CO, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia meminta syarat wajib PCR bagi calon penumpang pesawat dibatalkan atau minimal direvisi. YLKI menilai kewajiban tes PCR bagi penumpang pesawat adalah aturan diskriminatif.

"Karena sektor transportasi lain hanya menggunakan antigen, bahkan tidak pakai apa pun," ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Sabtu (23/10/2021).

Seperti diketahui, Pemerintah secara resmi mewajibkan penumpang pesawat untuk penerbangan salah satunya yakni memperlihatkan surat keterangan hasil negatif RT-PCR.

Dalam aturan terbaru surat keterangan hasil negatif RT-PCR maksimal 2x24 jam menjadi syarat sebelum keberangkatan perjalanan dari dan ke wilayah Jawa-Bali serta di daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4.

Adapun untuk luar Jawa-Bali, syarat ini juga ditetapkan bagi daerah dengan kategori PPKM level 1 dan 2 namun tes antigen masih tetap berlaku dengan durasi 1x24 jam.

Aturan yang berlaku efektif mulai 24 Oktober 2021 ini termaktub dalam Surat Edaran (SE) Nomor 88 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Tulus juga menyebut aturan tersebut harus dihapus karena memberatkan dan menyulitkan konsumen. Selain menyoroti soal Harga Eceran Tertinggi (HET) tes PCR di lapangan, dia juga menyoroti waktu pemberlakuan PCR menjadi 3x24 jam, mengingat di sejumlah daerah tidak semua laboratorium PCR bisa mengeluarkan hasil cepat.

"Atau cukup antigen saja, tetapi harus vaksin dua kali. Dan turunkan HET PCR kisaran menjadi Rp200 ribuan," imbuhnya.

Menurutnya, HET tes PCR banyak yang diakali oleh penyedia sehingga harganya naik berkali lipat dan berbeda-beda.

"HET PCR di lapangan banyak diakali oleh provider dengan istilah 'PCR Ekspress', yang harganya tiga kali lipat dibanding PCR normal. Ini karena PCR normal hasilnya terlalu lama, minimal 1x24 jam," tuturnya.

Tulus meminta agar kebijakan soal syarat penumpang pesawat terbang benar-benar ditentukan secara adil.

"Jangan sampai kebijakan tersebut kental aura bisnisnya. Ada pihak pihak tertentu yang diuntungkan," pungkas Tulus Abadi.[]