News

Minta Jangan Berhenti Dukung Ukraina, Sekjen NATO: Perang Bakal Berlangsung Bertahun-tahun

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga memperingatkan perlunya bersiap untuk konflik jangka panjang.


Minta Jangan Berhenti Dukung Ukraina, Sekjen NATO: Perang Bakal Berlangsung Bertahun-tahun
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meminta sekutu Barat agar tak berhenti mendukung Ukraina, meski biayanya mahal. (BBC)

AKURAT.CO Negara-negara Barat harus bersiap untuk terus mendukung Ukraina dalam perang yang diyakini bakal berlangsung selama bertahun-tahun, menurut peringatan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg. Ia pun mengakui biaya perang tinggi, tetapi harga untuk membiarkan Moskow mencapai tujuan militernya bahkan lebih besar.

Dilansir dari BBC, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga memperingatkan perlunya bersiap untuk konflik jangka panjang. Menurut Stoltenberg dan Johnson, memasok lebih banyak senjata akan membuat Ukraina lebih berpeluang menang.

"Kita harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa perang ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kita tak boleh berhenti mendukung Ukraina. Bahkan, sekalipun biayanya tinggi, tak hanya untuk dukungan militer, tetapi juga karena kenaikan harga energi dan pangan," ungkap Stoltenberg dalam wawancara dengan surat kabar Jerman 'Bild'.

baca juga:

Menurut Stoltenberg, memasok Ukraina dengan senjata yang lebih modern akan meningkatkan peluangnya untuk dapat membebaskan wilayah Donbas timur, yang sebagian besar saat ini jatuh ke tangan Rusia.

Selama beberapa bulan terakhir, pasukan Rusia dan Ukraina bertempur untuk menguasai wilayah timur negara tersebut. Moskow pun membuat kemajuan perlahan dalam beberapa pekan terakhir.

Menulis di Sunday Times, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan 'kampanye gesekan' dan mencoba menghancurkan Ukraina dengan kebrutalan belaka.

"Saya khawatir kita perlu menguatkan diri untuk perang yang panjang. Waktu adalah faktor yang vital. Semuanya akan tergantung pada apakah Ukraina dapat memperkuat kemampuannya untuk mempertahankan wilayahnya lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan Rusia untuk memperbarui kapasitasnya untuk menyerang," tulisnya.

Mengunjungi Kyiv pada Jumat (17/6), Johnson mengatakan pasokan senjata, peralatan, amunisi, dan pelatihan ke ibu kota Ukraina diperlukan untuk melebihi upaya Moskow dalam mempersenjatai diri.

Sementara itu, otoritas Ukraina telah blak-blakan dalam beberapa hari terakhir tentang perlunya meningkatkan pasokan senjata berat ke negaranya jika pasukan Rusia ingin dikalahkan. Pada Rabu (15/6), Menteri Pertahanan Oleksiy Resnikov bertemu dengan sekitar 50 negara di Grup Kontak Pertahanan Ukraina di Brussel untuk meminta lebih banyak senjata dan amunisi.

Sekutu Barat sejauh ini telah menawarkan pasokan senjata utama. Namun, Ukraina mengaku baru menerima sebagian kecil dari kebutuhannya untuk mempertahankan diri dan meminta senjata yang lebih berat.

Di sisi lain, otoritas Rusia kerap mengkritik dukungan militer NATO untuk Ukraina. Dalam sebuah wawancara dengan BBC pekan lalu, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyinggung prospek Ukraina bergabung dengan aliansi Barat sebagai alasan utama untuk invasi.

"Kami mendeklarasikan operasi militer khusus karena kami sama sekali tak punya cara lain untuk menjelaskan kepada Barat bahwa menyeret Ukraina ke dalam NATO adalah tindakan kriminal," dalih Lavrov.

Ukraina bukanlah anggota NATO. Meski telah menyatakan keinginan untuk bergabung, belum ada kepastian waktunya.[]