News

Milisi Houthi Rudal Pangkalan Militer Yaman, 30 Tentara Tewas dan 65 Terluka 

Akibat serangan ini, sedikitnya 30 tentara dikonfirmasi tewas. Sementara sekitar 65 orang lainnya dalam kondisi luka-luka. 


Milisi Houthi Rudal Pangkalan Militer Yaman, 30 Tentara Tewas dan 65 Terluka 
Dalam foto ini, sebuah ambulans mengangkut para korban dari pangkalan udara al-Anad ke rumah sakit Ibn Khaldun di provinsi Lahj, Yaman, Minggu (29/8) ( AFP)

AKURAT.CO Kelompok Houthi dilaporkan telah meluncurkan serangan rudalnya ke pangkalan militer milik pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman barat daya, Minggu (29/8) waktu setempat. Akibat serangan ini, sedikitnya 30 tentara dikonfirmasi tewas. Sementara sekitar 65 orang lainnya dalam kondisi luka-luka. 

Serangan ini dikonfirmasi oleh pasukan selatan Yaman yang menjadi bagian dari koalisi yang dipimpin Saudi.

Menurut juru bicara pasukan selatan, Mohamed al-Naqib, tentara yang tewas berjumlah antara 30-40. Namun, menurutnya, korban tewas masih bisa meningkat karena regu penyelamat masih membersihkan tempat kejadian.

Sebagaimana diwartakan Straits Times hingga Sky News, pemberontak Houthi telah menggunakan drone bersenjata dan rudal balistik untuk menyerang pangkalan militer Al-Anad. Saat itu, tiga ledakan meletus ketika puluhan tentara sedang melakukan latihan pagi mereka. 

Hingga kini belum jelas apakah warga sipil ikut jadi korban atau tidak dalam serangan ini. 

Sementara, petugas medis menggambarkan suasana kacau saat ledakan terjadi. Digambarkan bagaimana saat itu, para tentara yang ketakutan dengan serangan lanjutan berjibaku mengangkut rekan-rekan mereka yang terluka. 

Kemudian dua sumber medis lainnya mengatakan beberapa jenazah telah tiba di rumah sakit utama provinsi Lahj bersama dengan 16 orang lainnya yang terluka.

Milisi Houthi Rudal Pangkalan Militer Yaman yang Didukung Saudi, 30 Tentara Tewas, 65 Terluka  - Foto 1
 AP

Yaman terlibat dalam perang saudara sejak tahun 2014. Itu terjadi ketika pemberontak Houthi berhasil menyapu sebagian besar wilayah utara, merebut ibu kota Sanaa, dan menggulingkan pemerintahan Abd-Rabbu Mansour Hadi. 

Kemudian pada Maret 2015, koalisi yang dipimpin oleh Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan intervensi untuk mengembalikan Hadi ke tampuk kekuasaan. Namun, eskalasi justru makin berlanjut dan sekarang Yaman menemui jalan buntu. Perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Menurut UNICEF, sekitar 21 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan 2,3 juta anak di bawah usia lima tahun diproyeksikan menderita kekurangan gizi akut tahun ini.

Serangan pada Minggu itu juga muncul setelah pembicaraan damai antara koalisi pimpinan Saudi dan Houthi gagal mencapai kesepakatan. Sementara diketahui, negosiasi antara keduanya ikut didukung oleh PBB dan Amerika Serikat. Saat itu, pembicaraan difokuskan pada gencatan senjata serta langkah-langkah pencabutan blokade di bandara Sanaa hingga pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Houthi.

Seorang juru bicara militer untuk Houthi tidak mengonfirmasi atau menyangkal serangan terhadap pangkalan pemerintah.

Houthi yang didukung Iran, sebelumnya telah meluncurkan serangan serupa. Di antaranya termasuk serangan drone bermuatan bom di Al-Anad pada Januari 2019 yang menewaskan enam tentara.

Baca Juga: Ingin Rebut Kendali Yaman Utara, Houthi Serbu Kota Marib yang Kaya Minyak

Sementara tahun lalu, Sky News menemukan bukti potensi kejahatan perang oleh koalisi pimpinan Saudi setelah serangan udara menghantam sebuah rumah keluarga di desa terpencil Washah dekat perbatasan Yaman-Saudi.

Serangan itu menewaskan sembilan orang, dan semuanya adalah wanita dan anak-anak.[]