Ekonomi

Miliki Seribu Perajin Kayu hingga Tembus Pasar Dunia, Ini 5 Fakta Menarik Desa Tutul

Ekspor hingga mancanegara.


Miliki Seribu Perajin Kayu hingga Tembus Pasar Dunia, Ini 5 Fakta Menarik Desa Tutul
Desa Tutul, Kabupaten Jember (katadesa.id)

AKURAT.CO, Beragamnya budaya Indonesia memang menjadi magnet tersendiri di dunia internasional. Salah satu bentuk ragam budaya yang dikenal oleh dunia adalah berbagai produknya yang sangat khas.

Desa Tutul menjadi salah satu wiayah yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai perajin dari berbagai produk yang telah diekspor ke berbagai negara di dunia. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik terkait Desa Tutul yang ada di Kabupaten Jember. 

1. Berawal dari kerajinan kayu

Dilansir dari GNFI, perajin yang ada di Desa Tutul, Kecamatan Balung, Jember, tersebut telah ada sejak tahun 1970an. Ketika itu, warga desa hanya menggunakan kayu sebagai bahan bakar dapur atau sebagai kayu bakar. Namun, sejumlah orang memilih untuk memakainya sebagai bahan dasar pembuatan sejumlah produk kreatif. Awalnya, produk tersebut berupa gelang dan tasbih, namun kemudian berkembang menjadi berbagai macam mulai dari sendok hingga spatula. 

2. Rp50 ribu hingga Rp1 juta

Dari bahan kayu, berbagai produk seperti sendok, garpu, piring, mangkuk, spatula, cangkir, hingga nampan pun diproduksi oleh warga Desa Tutul tersebut. Di musim haji, jumlah pesanan tersebut meningkat dengan harga tasbih kayu mulai dari Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kodi. Sedangkan sejumlah tasbih berbahan kayu berkualitas tinggi lainnya seperti menggunakan kayu gaharu dijual dengan harga Rp300 ribu hingga Rp1 juta. 

3. Pembagian kerja yang jelas

Ketika pesanan datang, maka sejumlah wraga sekitar akan mulai mengerjakannya. Untuk membuat sejumlah tasbih dari kayu, warga sekitar membutuhkan waktu hingga satu minggu. Hampir setiap warga Desa Tutul memiliki kesibukannya sendiri, mulai dari operasional mesin hingga khusus memotong kayu. Tak heran jika Desa Tutul dikenal sebagai Sentra Industri Kecil (Handicraft). 

4. Omzet hingga ratusan juta rupiah

Dengan labelnya sebagai salah satu pusat industri kecil, Desa Tutul juga berhasil memberikan penghasilan menggiurkan bagi warganya. Dilansir dari Beritabaik, seorang perajin bahkan berhasil meraih omzet hingga Rp150 juta dengan produksi berbagai aksesori mulai dari tasbih, cincin, pipa rokok, kalung, hingga berbagai peralatan dapur. Bahkan, seorang warga juga mengaku mendapatkan banyak pesanan ketika pandemi ini. Selain itu, penghasilan per bulan dari warganya pun bisa mencapai Rp5,6 juta.  

5. Tembus pasar global

Kualitas produksi dari Desa Tutul ternyata tidak hanya dikenal di pasar lokal. Sejak tahun 2010 silam, sejumlah pesanan pun datang dari luar negeri. Bahkan, sejumlah pemesan tersebut datang langsung ke Desa Tutul untuk membeli berbagai aksesorinya. Berbagai produk Desa Tutul hingga kini telah diekspor ke Arab Saudi, Pakistan, Malaysia, Tiongkok, Korea, Singapura, Australia, Amerika hingga Eropa.