Ekonomi

Miliarder Ray Dalio: Investor Jangan Bergantung Pada Uang Tunai Karena Seperti Sampah!

Miliarder investor Ray Dalio mengungkapkan bahwa uang tunai adalah sampah jadi investor jangan bergantung pada uang tunai


Miliarder Ray Dalio: Investor Jangan Bergantung Pada Uang Tunai Karena Seperti Sampah!
Miliarder dunia Ray Dalio (bloomberg.com)

AKURAT.CO Miliarder investor Ray Dalio mengungkapkan bahwa uang tunai adalah sampah jadi investor jangan bergantung pada uang tunai. Hal itu seiring dengan investasi pada aset kripto atau Bitcoin.

Ray Dalio mengakui muncul bahaya dari pemerintah yang dapat menghancurkan pasar kripto.

Perusahaannya, Bridgewater Associates kini bernilai US$150 miliar (Rp2.134 triliun), dan Ray Dalio kini berharta USD15,6 miliar (Rp221 triliun), menurut Bloomberg Billionaires Index.

Beberapa waktu lalu, pria 72 tahun ini pernah mengatakan bahwa ia memiliki Bitcoin. Meski demikian, investasinya terhadap Bitcoin hanya sedikit dari persentasenya terhadap emas. Padahal, investasi Dalio terhadap emas adalah yang paling kecil dibandingkan investasi lainnya.

Miliarder hedge fund ini mengatakan bahwa pemerintah tidak ingin cryptocurrency berhasil, tetapi bukan berarti investor tidak boleh melakukan diversifikasi.

Bitcoin adalah mata uang digital terbesar. Nilainya telah melonjak lebih dari 60% tahun ini, tetapi mendapat sorotan dari regulator yang khawatir tentang bagaimana investor ritel terlibat dengan cryptocurrency.

" Pada akhirnya jika itu benar-benar berhasil, mereka akan membunuhnya,” kata Dalio. "Tapi itu bukan berarti tidak memiliki tempat," ujarnya dikutip dari CNBC International di Jakarta, Jumat (17/9/21).

Pada saat konferensi SALT di New York, Dalio meragukan prediksi awal pekan ini oleh Cathie Wood dari Ark Investment Management bahwa Bitcoin akan meningkat 10 kali lipat dalam lima tahun. Namun, menurut Dalio, itu tidak masuk akal, melansir warta ekonomi.

Sekadar informasi, sebelumnya Pendiri Bridgewater Associates sekaligus investor dunia Ray Dalio mengungkapkan ekonomi China dan Singapura punya potensi terus menggeliat. Pasalnya itu telah dibuktikan oleh dirinya, dimana melalui acara Radar Bloomberg Ray Dalio menceritakan pengalaman hidupnya untuk berkunjung dan bekerja pertama kali di kawasan Asia yakni China pada tahun 1984. Lambat laun kantor keluarga pribadi Ray Dalio pun mampu menjangkau hingga ke Singapura memasuki tahun 2020.

Sementara ketika ditanya tentang upaya menanggulangi kesenjangan kekayaan, Dalio menegaskan dukungannya untuk reformasi kapitalisme. Ia mengatakan ketika pertama kali mengunjungi China tidak ada filantropi di negara itu.[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.