Olahraga

Michael Masi: Saya Diancam Dibunuh

Michael Masi harus kehilangan posisinya sebagai Direktur Balapan F1 sehubungan dengan keputusannya di Abu Dhabi tahun lalu.


Michael Masi: Saya Diancam Dibunuh
Direktur balapan Formula One (F1), Michael Masi. (Formula1.com)

AKURAT.CO, Mantan Direktur Balapan Formula One (F1), Michael Masi, akhirnya buka suara tentang pengalamannya selepas kontroversi di Grand Prix Abu Dhabi, Desember tahun lalu. Masi mengaku menghadapi serangan secara daring yang bahkan mengancam nyawanya.

“Ada hari-hari yang gelap,” kata Masi sebagaimana dipetik dari BBC. “Tentu saja, saya merasa saya adalah orang paling dibenci di dunia. Saya mendapatkan ancaman pembunuhan. Orang-orang bilang mereka akan mendatangi saya dan keluarga saya.”

Masi harus kehilangan posisinya sebagai Direktur Balapan F1 sehubungan dengan keputusannya di Abu Dhabi tahun lalu. Ketika itu Masi menerapkan regulasi safety car yang membuat lap terakhir diulang dan membuat Lewis Hamilton kehilangan gelar juara dunia kedelapan karena disalip oleh Max Verstappen.

baca juga:

Setelah penyelidikan dilakukan oleh Federasi Otomobil Internasional (FIA), Masi dicopot dari jabatannya. FIA mengatakan bahwa hal tersebut merupakan “human error” yang bertanggung jawab atas regulasi yang tak tepat pada momen final perebutan gelar juara dunia.

Pria asal Australia berusia 44 tahun itu menggambarkan ancaman yang diberikan kepadanya karena keterkejutan para penggemar. Serangan dikirimkan di seluruh akun media sosial yang dimiliki Masi.

“Mereka terkejut. Rasis, melecehkan, jahat, mereka menyebut saya dengan setiap nama (buruk) di bawah matahari,” kata Masi. “Dan mereka datang terus. Tidak hanya di Facebook saya tetapi juga di LinkedIn, yang seharusnya merupakan platform profesional untuk bisnis. Tipe pelecehannya sama.”

Masi mengatakan bahwa ia tidak ingin melibatkan banyak orang dengan pengalaman tersebut. Ia hanya membicarakan ancaman tersebut dengan keluarga dekat dan berusaha untuk membuat situasi tetap tenang.

“Saya tidak ingin berbicara kepada siapapun. Bahkan tidak kepada keluarga dan teman. Saya haya berbicara dengan keluarga dekat saya, tetapi sebentar saja,” ucap Masi.

“Dampaknya fisik, tetapi lebih ke mental. Saya hanya ingin berada dalam gelembung. Saya tidak punya hasrat untuk bicara kepada mereka. Saya hanya ingin sendirian, yang sangat menantang. Keseluruhan pengalaman ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat.”[]