Tech

Mewabah Mulai 2019, Kenali Bahaya Malware Trojan Perbankan

Trojan perbankan adalah salah satu spesies paling berbahaya di dunia malware


Mewabah Mulai 2019, Kenali Bahaya Malware Trojan Perbankan
Trojan Perbankan adalah musuh berbahaya bagi mobile banking Anda. (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Sudah menjadi fakta bahwa pandemi telah mengubah secara drastis berbagai aspek kehidupan manusia secara global, khususnya Asia Pasifik. Salah satu dampak yang paling jelas adalah peningkatan signifikan adopsi pembayaran digital di wilayah tersebut.

Setelah menganalisis data historis dari Kaspersky Security Network (KSN), Vitaly Kamluk selaku Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menemukan bahwa peningkatan pembayaran non tunai di Asia Pasifik sejalan dengan meningkatnya Trojan perbankan di wilayah tersebut.

“Seperti yang kita ketahui bersama, pembatasan sosial memaksa semua orang mengalihkan transaksi keuangannya secara online. Tapi sekarang, setelah menganalisis angka historis yang kami miliki tentang ancaman finansial, saya juga mengetahui bahwa ada wabah lain yang dimulai pada awal 2019 di Asia Pasifik, yaitu Trojan perbankan,” kata Kamluk dalam keterangan tertulis yang diterima Akurat.co.

Trojan perbankan adalah salah satu spesies paling berbahaya di dunia malware. Sederhananya, mereka digunakan untuk mencuri uang dari rekening bank pengguna.

Tujuan utama malware ini adalah untuk mendapatkan kredensial akses atau kata sandi satu kali (OTP) ke rekening bank online atau untuk memanipulasi pengguna dan membajak kontrol akses perbankan online langsung dari pemilik yang sah.

Karena meningkatnya penggunaan pembayaran online dan sikap konsumen yang masih membutuhkan perbaikan dalam melindungi perangkat mereka, Trojan perbankan adalah salah satu malware yang paling berdampak bagi pengguna rumahan.

Analisis data historis selama satu dekade dari KSN menunjukkan bahwa Korea Selatan adalah salah satu negara pionir di Asia Pasifik yang menderita Trojan perbankan sepanjang 2011-2012. Namun, sejak tahun 2013 statistik menunjukkan jumlah infeksi yang relatif rendah dan kini berada di bagian bawah daftar negara yang terinfeksi Trojan perbankan di wilayah tersebut.

Sebagian besar negara maju lainnya juga menunjukkan statistik deteksi Trojan perbankan yang rendah, sementara negara-negara berkembang tampaknya telah dan tetap menjadi hot spot atau area menggiurkan bagi para pelaku kejahatan siber sejak 2019.

“Trojan perbankan bukanlah masalah terbesar di banyak negara di Asia Pasifik hingga 2019 ketika wabah infeksi muncul di beberapa negara sekaligus," sebut dia.