News

Meski Rusia Fokus Kuasai Donbas, AS Yakin Putin Masih Ambisi Rebut Seluruh Ukraina

Menurut penilaian intelijen AS, ada ketidaksesuaian antara ambisi Putin dan apa yang bisa dicapai oleh militer Rusia di Ukraina.


Meski Rusia Fokus Kuasai Donbas, AS Yakin Putin Masih Ambisi Rebut Seluruh Ukraina
Menurut Direktur Intelijen Nasional AS Avril Haines, invasi Rusia di Ukraina akan berlanjut untuk jangka waktu yang lama dan gambarannya tetap sangat suram. (BBC)

AKURAT.CO, Presiden Rusia Vladimir Putin masih ingin menguasai sebagian besar wilayah Ukraina, menurut badan intelijen Amerika Serikat (AS). Meski begitu, pasukan Moskow telah begitu lemah dalam pertempuran, sehingga AS menilai mereka hanya mampu membuat kemajuan yang lambat. Artinya, perang bisa berlangsung lama, menurut Direktur Intelijen Nasional Avril Haines.

Dilansir dari BBC, Moskow beralih fokus untuk merebut wilayah Donbas Ukraina pada bulan Maret setelah gagal merebut Kyiv dan kota lainnya. Meski begitu, Putin masih memegang tujuan yang sama di awal konflik, yaitu untuk merebut sebagian besar wilayah Ukraina. Namun, Rusia mustahil mencapai tujuan tersebut dalam waktu dekat.

"Kami melihat adanya diskoneksi antara tujuan militer jangka pendek Putin dalam masalah ini dan kapasitas militernya, semacam ketidaksesuaian antara ambisinya dan apa yang bisa dicapai oleh militernya," terang Haines dalam konferensi Departemen Perdagangan AS.

baca juga:

Sejak gagal mencapai tujuan awalnya untuk merebut Kyiv, Rusia berfokus merebut wilayah Donbas timur, kawasan industri besar yang diklaim Putin bahwa Ukraina telah melakukan genosida terhadap warga berbahasa Rusia.

Pasukan Rusia telah memperoleh keuntungan di sana. Baru-baru ini, mereka menguasai kota Severedonetsk, tetapi kemajuannya lambat dan pasukan Ukraina telah melakukan perlawanan yang kuat.

Dalam pernyataan publik pertamanya sejak Mei tentang penilaian intelijen AS soal perang, Haines memperkirakan invasi Rusia akan berlanjut untuk jangka waktu yang lama dan gambarannya tetap sangat suram. Ia mengatakan badan-badan intelijen memprediksi 3 skenario tentang berjalannya perang. Kemungkinan terbesarnya adalah konflik berjalan lambat dengan Rusia mencapai 'keuntungan tambahan, tanpa terobosan'.

Kemungkinan lainnya yang lebih kecil meliputi terobosan besar Rusia atau stabilisasi garis depan dengan Ukraina mencapai keuntungan kecil. Artinya, Moskow kemungkinan menjadi lebih bergantungan 'alat asimetris' untuk menargerkan musuh-musuhnya, termasuk serangan dunia maya, upaya pengendalian sumber daya energu, bahkan senjata nuklir. []