Rahmah

Meski Mendapat Penolakan Keras dari Kaumnya, Maisarah Bin Masruq Al Abis tetap Memeluk Islam

Sejak awal, Maisarah sudah memuji dan mengakui kebenaran ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW.


Meski Mendapat Penolakan Keras dari Kaumnya, Maisarah Bin Masruq Al Abis tetap Memeluk Islam
Sahabat Nabi (SINDONEWS)

AKURAT.CO  Suatu waktu, seseorang dari Bani al-Absi bernama Maisarah Bin Masruq Al Absi melakukan ibadah haji. Pada saat berkemah di Jamratul Ula yang berdekatan dengan Masjid Khaif, kabilah ini didatangi Rasullullah SAW yang berboncengan dengan Zaid bin Haritsah. 

Kedatangan Rasulullah SAW untuk menjelaskan Risalah yang dibawanya dan menyeru untuk memeluk Islam. Kala itu, Maisarah berkata pada kaumnya yang hadir, "Aku bersumpah dengan nama Allah, kalau kita membenarkan lelaki ini dan mengajaknya ke tengah-tengah tempat tinggal kita, itu adalah pendapat yang baik. Dan aku bersumpah dengan nama Allah bahwa agamanya akan menang hingga ke segala penjuru,". 

Akan tetapi, kaumnya itu tidak menanggapi pendapat Maisarah tersebut. Karena sikap Maisarah itu, Rasulullah SAW secara khusus mengajaknya untuk memeluk Islam. Namun dia tidak langsung menerima Islam, karena merasa sendirian sehingga khawatir dimusuhi kaumnya. Meskipun begitu, Maisarah tetap memuji dan mengakui kebenaran ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW.

Sepulang dari perjalanan haji dan datang kepada kaumnya, Maisarah mengajak beberapa orang menemui seorang pendeta Yahudi di Fadak untuk mengetahui lebih banyak tentang Rasulullah SAW yang dijanjikan. Kemudian Pendeta Yahudi itu membuka sebuah kitab besar, ia pun segera mencari-cari tentang masalah tersebut.

Hingga kemudian, ia menemukan maksud dari halaman pada kitab besar itu, Pendeta Yahudi itu lalu membacanya, "Seorang nabi yang ummi (buta huruf), berbangsa Arab, biasa menunggang unta, merasa cukup dengan makanan yang kasar (roti keras), tubuhnya tidak rendah juga tidak tinggi, rambutnya tidak lurus juga tidak terlalu keriting, pada kedua matanya ada warna putih kemerah-merahan. Jika ia menyeru kalian, terimalah seruannya, dan masuklah ke dalam agamanya."

Pendeta Yahudi itu kemudian melanjutkan perkataannya, "Kami kaum Yahudi hasad kepadanya, itulah yang menyebabkan kami tidak mengikutinya, sesungguhnya karena dialah tempat kami akan ditimpa bencana besar. Bangsa Arab akan terpecah menjadi dua, yang mengikutinya atau memeranginya, maka jadilah kalian orang-orang yang mengikutinya." 

Setelah mendengar perkataan Pendeta Yahudi itu, Maisarah semakin mantap dengan pendapat yang dipilihnya. Akhirnya mereka sepakat untuk menemui Rasulullah SAW pada musim haji berikutnya. 

Tetapi keadaan berbeda ketika sampai di antara kaumnya, kesepakatan tersebut dimentahkan oleh para tetua kabilah Bani Absi yang menolak dan menentang keras kesepakatan yang diambil kelompok Maisarah ketika menemui Pendeta Yahudi tersebut.

Beberapa tahun setelah itu, Maisarah bertemu Rasulullah SAW saat Haji Wada'. Maisarah berkata, "Ya Rasulullah, tak henti-hentinya aku berharap dapat mengikuti ajakanmu sejak pertemuan pertama dahulu, tetapi Allah menghendaki keterlambatanku masuk Islam. Sesungguhnya sebagian besar orang yang bersamaku dulu telah meninggal."     

Dengan demikian, Rasululah SAW  menjelaskan kepada mereka yang meninggal di luar Islam, maka akan mendapat tempat di neraka. Hal tersebut yang membuat Maisarah selalu mensyukuri keislamannya sebelum meninggal. Maisarah terus memperbaiki keislamannya hingga mempunyai kedudukan yang baik di sisi Abu Bakar Ash Shiddiq. Wallahu A'lam Bishawab.[]