News

Meski Diprotes, Jepang Tetap Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Eks PM Shinzo Abe

Meski Diprotes, Jepang Tetap Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Eks PM Shinzo Abe
Para pelayat meletakkan bunga dan memberi penghormatan di altar di luar Nippon Budokan Hall, yang menjadi tempat pemakaman kenegaraan untuk mantan PM Jepang Shinzo Abe, di Tokyo, Selasa (27/9) (Issei Kato/ Reuters)

AKURAT.CO  Meski diguncang protes, Jepang tetap menggelar upacara pemakaman kenegaraan untuk mantan Perdana Menteri (PM) yang terbunuh, Shinzo Abe.

PM terlama Jepang itu ditembak mati pada 8 Juli saat menyampaikan pidato kampanye di kota barat Nara.

Menurut Al Jazeera, pemakaman kenegaraan semacam itu adalah peristiwa langka, tapi saat ini berhasil memecah belang bangsa.

baca juga:

Pada Selasa (27/9), sekitar 4 ribu pelayat hadir untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir untuk sang mantan pemimpin. Mereka yang melawat termasuk PM Australia Antony Albanese, PM India Narendra Modi, Putra Mahkota Jepang Akishino, dan Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris. 

Acara dimulai pukul 14.00 (05.00 GMT/12.00 WIB), dengan Pasukan Bela Diri Jepang melepaskan 19 tembakan untuk menghormati Abe. Sementara itu, istrinya, Akie Abe membawa abunya ke aula Nippon Budokan Tokyo.

Sebuah band militer lalu memainkan lagu kebangsaan. Para tentara dengan seragam putih, terlihat mengambil abu Abe dan meletakkannya di atas alas yang dihiasi dengan bunga krisan kuning dan putih. Petugas lantas mengheningkan cipta sejenak untuk Abe.

Di luar, di taman terdekat, ribuan orang Jepang mengantre untuk memberikan bunga penghormatan kepada politisi yang terbunuh itu. Beberapa warga mengatakan mereka sampai menunggu hingga tiga jam. 

Meski Diprotes, Jepang Tetap Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Eks-PM Shinzo Abe yang Dibunuh - Foto 1
 Issei Kato/Reuters

Bagaimanapun, pemakaman kenegaraan juga telah memicu protes di pusat kota Tokyo. Para demonstran telah mengkritik Abe karena warisan kebijakannya yang memecah belah, serta biaya upacara pemakaman tersebut, yang katanya memakan hingga USD 11,5 juta (Rp174 miliar).

Sebuah jajak pendapat yang baru-baru ini dilakukan oleh surat kabar Mainichi menunjukkan bahwa sekitar 62 persen responden tidak menyetujui pemakaman kenegaraan untuk Abe.

Kemarahan publik dipicu terutama karena pengungkapan hubungan antara Abe, Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dan Gereja Unifikasi.

Penembak Abe, Tetsuya Yamagami, sebelumnya telah menyalahkan gereja tersebut, yang oleh para kritikus digambarkan sebagai 'kultus predator'. 

Yamagami mengatakan bahwa gereja itu telah membuat hancur keuangan keluarganya. Ia juga mengonfirmasi kepada penyelidik bahwa dia menembak Abe karena dukungan eks-PM itu untuk gereja. 

Sejak itu, media Jepang melaporkan secara ekstensif tentang 'aib' gereja tersebut. Itu termasuk bagaimana gereja mengambil secara paksa sumbangan dengan nilai selangit dari para pengikutnya di Jepang.

Sebuah survei internal LDP juga telah menemukan bahwa hampir setengah dari 379 legislator nasional dari partai yang memerintah, memiliki hubungan dengan pihak gereja dan kelompok-kelompok yang berafiliasi. Kaitan ini berkisar seperti aktivias untuk menghadiri acara-acara gereja hingga menerima sumbangan dan menerima sukarelawan untuk dukungan pemilihan.

Pengungkapan itu menyebabkan peringkat persetujuan PM Fumio Kishida turun di bawah 30 persen.

Dalam upayanya untuk mengatasi kemarahan, Kishida berinisiatif untuk mengocok kabinetnya. Ia juga  memerintahkan para legislator LDP untuk memutuskan hubungan dengan Gereja Unifikasi.

Meski Diprotes, Jepang Tetap Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Eks-PM Shinzo Abe yang Dibunuh - Foto 2
Kim Kyung-Hoon/Reuters

Namun, Kishida tetap membela pemakaman kenegaraan untuk Abe. Ia merujuk 'prestasi-prestasi' Abe selama delapan tahun menjabat, dan mengutip bagaimana pemerintah menerima sekitar 1.700 pesan belasungkawa dari lebih dari 260 negara dan wilayah.

Ada sekitar 700 pejabat asing yang hadir dalam upacara pada Selasa. Kishida pun menyebut kesempatan untuk melakukan diplomasi sebagai alasan pemakaman. Ia mengatakan bahwa pihaknya telah menghabiskan Senin malam hingga Selasa pagi untuk menggelar pertemuan dengan para pemimpin dunia.

Dalam pidato 12 menit untuk Abe, Kishida memuji mendiang mentornya tersebut. Ia menyebut Abe sebagai seorang politisi yang menginspirasi, dengan visi yang jelas untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Jepang dan dunia pascaperang. 

Abe telah dianggap mempromosikan konsep 'Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka' di tengah polemik dengan China.

Menatap foto besar Abe yang tersenyum, Kishida mengatakan bahwa kematiannya datang terlalu cepat.

"Anda adalah orang yang seharusnya hidup lebih lama.

"Saya sangat yakin bahwa Anda bisa berkontribusi sebagai kompas untuk menunjukkan arah masa depan Jepang dan seluruh dunia selama 10 atau 20 tahun lagi," kata Kishida.

Pemakaman kenegaraan untuk Abe, yang menerima pemakaman pribadi beberapa hari setelah pembunuhannya, adalah yang pertama bagi seorang mantan PM Jepang. Ini terjadi setidaknya sejak mantan PM Shigeru Yoshida pada 1967.

Akan tetapi, partai-partai oposisi Jepang telah memboikot acara tersebut, dengan menyebut bahwa 'Abe tidak pantas mendapat kehormatan seperti itu'.

Para oposisi yang memprotes menunjuk pada kebijakan-kebijakan kontroversial yang pernah diambil Abe. Ini termasuk dorongan untuk merevisi konstitusi pasifis Jepang dan retorika nasionalistiknya yang telah memperburuk hubungan dengan negara-negara tetangga, termasuk Korea Selatan.

Pada saat pengunduran dirinya karena alasan kesehatan pada tahun 2020, Abe juga terperosok dalam skandal. Ketika itu, dia dituding telah menyalahgunakan dana politik dan terlibat dalam kronisme. 

Saat itu, Abe juga menghadapi kritik karena penanganannya yang buruk terhadap pandemi Covid-19 serta tekadnya untuk menyelenggarakan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo di tengah wabah.

"Keputusan Kishida untuk menghormati Abe dengan pemakaman kenegaraan tanpa berkonsultasi dengan Diet atau pengadilan sama persis dengan arogansi kekuasaan yang diasosiasikan publik dengan Abe. 

"Dengan selisih 2-1, publik menentang pemakaman kenegaraan dan sebagian besar oposisi ini dapat dikaitkan dengan warisan Abe yang toksik dan pencapaian-pencapaiannya terbatas.

"Jajak pendapat menunjukkan hanya sedikit yang percaya Kishida telah menangani masalah Gereja dengan kompeten dan ini adalah bagian dari alasan dia jatuh dalam jajak pendapat.

"Para pendukung berharap semuanya akan berakhir, tetapi sorotan media bisa saja mempertahankan kemarahan publik dan sekarang ada skandal penyuapan Olimpiade yang memberikan pengingat lebih lanjut tentang cara busuk dan liciknya pemerintah Abe," terang Jeffrey Kingston, profesor sejarah dan studi Asia di Temple University di Jepang mengatakan kepada Al Jazeera.[]