News

Merugi Rp29 Triliun karena Rusia, Perusahaan Jet Terbesar AerCap Kehilangan 113 Pesawatnya

AerCap Holdings, raksasa leasing pesawat dan pemilik jet terbesar di dunia, harus  ikut merugi karena invansi Rusia.


Merugi Rp29 Triliun karena Rusia, Perusahaan Jet Terbesar AerCap Kehilangan 113 Pesawatnya
Pemerintahan Rusia yang dipimpin Presiden Rusia, Vladimir Putin ikut menargetkan AerCap sebagai buntut sanksi atas konflik di Ukraina (CNN)

AKURAT.CO  AerCap Holdings, raksasa leasing pesawat dan pemilik jet terbesar di dunia, harus  ikut merugi karena invansi Rusia. AerCap pun dilaporkan kehilangan hingga 113 pesawat setelah Moscow menyitanya sebagai tanggapan atas sanksi yang dipicu oleh perang di Ukraina.

Penyitaan pesawat dan 11 mesin jet oleh otoritas Rusia menyebabkan AerCap mengemban biaya sebelum pajak sebesar USD 2,7 miliar (Rp39,5  triliun). Hal ini lantas menyebabkan perusahaan itu mengalami kerugian bersih sebesar USD 2 miliar (Rp29 triliun), dibanding laba USD 500 juta yang diperoleh tanpa penyitaan Rusia .

Namun, menurut eksekutif perusahaan, laporan kuartal tersebut sebenarnya bukan hal yang buruk. Mengingat AerCap melihat masa depan yang lebih baik karena permintaan global untuk terbang terus pulih dari pandemi Covid.

baca juga:

"Untuk dampak Rusia, ini adalah kuartal dasar yang kuat bagi perusahaan."

"(Tetapi) Di semua lini bisnis kami ... kami melihat peningkatan permintaan, peningkatan pemanfaatan kami, dan peningkatan kesehatan keuangan dari para pelanggan," ungkap CEO Aengus Kelly dalam komentarnya kepada para analis. 

Para investor pun setuju dengan optimisme tersebut, dan saham AerCap (AER) yang berbasis di Dublin naik 6 persen dalam perdagangan sore setelah laporan itu dirilis.

AerCap juga telah berhasil memulihkan 22 jet dan 3 mesinnya sebelum disita oleh otoritas Rusia. Selain itu, perusahaan telah mengajukan klaim asuransi untuk mencari pemulihan pesawat yang hilang, meskipun beberapa dari klaim tersebut berasal dari perusahaan asuransi Rusia. 

Kebijakan-kebijakan itu didukung oleh perusahaan reasuransi Barat, tetapi AerCap mengaku 'tidak tahu pasti kapan dan berapa jumlah pemulihan yang didapat karena kebijakan tersebut'.

AerCap yang berkantor pusat di Dublin, memiliki total 1.624 pesawat. Modal ini jauh lebih banyak dibanding yang dimiliki atau dioperasikan oleh maskapai tunggal mana pun. Bahkan, jet yang hilang karena Rusia hanya mewakili kurang dari 5 persen dari nilai bersih armada Aercap, yang tumbuh lebih besar selama pandemi dengan membeli perusahaan leasing saingan GECAS dari General Electric (GE).

Meski begitu, Aercap harus mampu segera mengatasi kerugian finansial dari jet-jet yang hilang itu, kata Richard Aboulafia, direktur pelaksana AeroDynamic Advisory. 

Jika perang berakhir dan sanksi dicabut, pesawat-pesawat tersebut pun telah kehilangan sertifikat operasinya di mata regulator penerbangan Barat.

"Begitu dokumentasinya hilang, tidak ada gunanya mencoba mendapatkannya kembali," tambah Aboulafia, seperti dikutip dari CNN Business.[]