News

Merinding! Begini 5 Prediksi Para Ilmuwan Tentang Bagaimana Bumi Akan Kiamat

Seperti ajaran agama-agama pada umumnya, sains juga percaya akan adanya kiamat.


Merinding! Begini 5 Prediksi Para Ilmuwan Tentang Bagaimana Bumi Akan Kiamat
Ilustrasi Bumi hancur (G. Baden/Corbis)

AKURAT.CO Para pemeluk agama di dunia pasti percaya jika suatu saat Bumi beserta isinya akan menemui kehancuran alias kiamat. Namun, dengan kepercayaan masing-masing, gambaran 'titik ajal' Bumi dan peradaban manusia pastinya berbeda. Ada yang beranggapan bahwa Bumi kiamat saat terompet sangkakala terdengar dan matahari terbit dari ufuk barat. Sementara ada pula yang percaya bahwa saat kiamat, Bumi akan tersedot atau mengalami kontraksi bersatu dengan Tuhan. Jadi dunia akan dimusnahkan Tuhan dan hilang begitu saja.

Lalu bagaimana dengan kiamat menurut pandangan sains? Seperti ajaran agama-agama pada umumnya, sains juga percaya akan adanya kiamat. Kendati demikian, sama seperti ajaran agama satu dengan yang lainnya, sains juga memiliki sejumlah gambaran sendiri soal berakhirnya Bumi dan peradaban manusia. Apa saja prediksinya?

Dilansir dari berbagai sumber, berikut 5 cara para ilmuwan memprediksi dunia akan berakhir.

1. Matahari berada di titik akhir evolusi dan berubah menjadi 'raksasa merah'

Merinding Begini 5 Prediksi Para Ilmuwan Tentang Bagaimana Bumi Akan Kiamat - Foto 1
 Wikimedia Commons/Fsgregs

Matahari mungkin menjadi detak jantung tata surya. Ia memandikan Bumi dengan energinya selama 4,5 miliar tahun terakhir. Namun, di tengah perannya yang luar biasa, Matahari juga diprediksi akan menjadi cikal bakal kehancuran manusia. 

Badan antariksa AS NASA juga menyebut bahwa kehangatan Matahari telah memungkinkan kehidupan di Bumi dan merupakan sumber energi penting bagi banyak organisme seperti tanaman. Kendati demikian, Matahari yang berusia sekitar 4,6 miliar tahun, kini sudah setengah jalan melalui siklus hidupnya.

Suatu hari bahan bakar Matahari akan habis dan melalui proses yang kemungkinan besar akan membuat dunia asal kita tidak dapat dihuni. Para astronom memperkirakan Matahari akan berubah menjadi raksasa merah atau bintang sekarat pada tahap akhir evolusi bintangnya.

Pada titik ini, Matahari akan kehabisan hidrogen dan pada akhirnya mulai mengembang dan mendingin seperti balon. Kemudian, cahaya Matahari akan menjadi sekitar 2 ribu kali lebih terang dari kondisi sekarang. Namun yang lebih mengkhawatirkan, Matahari yang mengembang kemungkinan akan menyelimuti planet-planet terdalam, seperti Merkurius dan Venus.

Meskipun Bumi mungkin akan tetap berada di luar jangkauan si raksasa merah, panasnya akan cukup kuat untuk menghanguskan Bumi. 

"Air dan atmosfer planet kita akan mendidih, tidak meninggalkan apa pun kecuali batu yang hangus dan tak bernyawa.