Abdul Bari

Sekretaris Perusahaan PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo)
Lifestyle

Merefleksikan Kembali Arti Kesuksesan


Merefleksikan Kembali Arti Kesuksesan
Orang kaya Zimbabwe harus bisa menjelaskan sumber kekayaan mereka atau asetnya terancam disita (BBC)

AKURAT.CO Sore itu menjadi sore yang sangat mendalam bagi saya. Sebuah whatsapp dari senior saya, yang sudah saya anggap seperti mentor, telah membuat saya merefleksikan kembali arti sebuah kesuksesan. Tidak ada nasehat, ataupun arahan yang tertera dari pesan tersebut, hanya sebuah gambar coret-coretan kertas yang membuat saya sedikit tertegun dalam diam. 

Sebagai mentor, senior saya memang tipikal orang yang gemar mengajak saya berpikir kritis. Dibanding menjelaskan panjang lebar, ia kerap memancing saya untuk mengelaborasi sebuah tema atau ide secara mendalam.

Dengan gaya khasnya, ia selalu bisa membuat saya belajar dan bertumbuh. Ia lebih suka memberikan saya tantangan alih-alih memberikan nasihat. Dari tantangan yang ia berikan, justru saya kemudian yang akan paham dengan sendirinya nasihat yang ia sampaikan, tanpa harus dia berbicara panjang lebar.  

Ia merupakan pribadi yang suka to the point dan selalu mengajak saya menjadi pribadi yang growth mindset. Ia selalu mendorong saya untuk keluar dari comfort zone,  membimbing saya untuk melewati fear zone dan selalu memotivasi saya untuk senantiasa berada dalam learning zone. 

Sore itu, seperti biasa, hanya pesan gambar yang ia kirimkan. Tidak ada kalimat pengiring, ataupun kalimat penjelasan dari gambar tersebut.  Saya pun hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih.

Cukup lama sebenarnya bagi saya mencerna apakah maksud dari mentor saya mengirimkan gambar mengenai 3 kesalahan utama dalam mengukur kesuksesan. Pikiran saya langsung meresapi apakah beliau mendapat kesan bahwa saya melakukan kesalahan dalam mengukur kesuksesan? atau beliau hanya ingin saya memiliki mindset yang tepat tentang arti sebuah kesuksesan.

Dalam gambar tersebut, intinya terdapat 3 kesalahan utama dalam mengukur sebuah kesuksesan. Pertama ialah suka mencari validasi dari orang lain. Kedua, suka membanding-bandingkan kesuksesan diri sendiri dengan orang lain, dan ketiga ialah melebih-lebihkan pencapaian karir. 

Pesan gambar tersebut membuat saya teringat kembali cerita seorang pelayan hotel yang diberikan resep hidup bahagia oleh Einstein. Konon pernah kejadian, bukannya memberikan uang tip, Albert Einstein justru memberikan lembaran kertas berisi resep kebahagiaan sebagai ganti tip. 

Ketika itu Einstein berkata “Mungkin jika anda cukup beruntung, catatan ini akan bernilai lebih daripada uang di masa depan”.  Benar saja catatan itu dimasa depan memang laku sekitar USD 1,56 juta dari sebuah lelang.