Achsanul Qosasi

Anggota III BPK RI
News

Menyoal Ketahanan Pangan yang Belum Memuaskan


Menyoal Ketahanan Pangan yang Belum Memuaskan
Anggota III BPK RI Achsanul Qosasi (Istimewa)

AKURAT.CO, Kesadaran sekaligus langkah dan gerakan untuk menempuh new normal, atau beradaptasi dalam suatu kenormalan baru, tentu saja merupakan salah satu solusi terbaik menghadapi pandemi Covid-19. Sebab simpang-siur kepastian tentang obat dan vaksin serta besarnya kemungkinan mutasi virus adalah dua di antara sebab yang harus dipertimbangkan.

Hemat saya, sebagai langkah prevensi lebih jauh, penyelenggara pemerintahan—eksekutif, legislatif dan yudikatif—bisa atau bahkan wajib berpikir, bersikap dan bertindak lebih jauh. Dengan berpatokan pada konsep ketahanan pangan jangka panjang, sebagai hal pokok dalam ekonomi subsistensi, harus ada satu sistem yang terpercaya secara saintifik dan dijalankan secara efektif, efisien dan bertanggung-jawab.

Dalam hal ini, ada baiknya kita mengingat sejenak apa yang dilakukan Nabi Yusuf setelah diangkat diangkat menjadi wazir (vizier) di tanah Mesir. Kisah ini diabadikan secara indah dalam kitab suci tiga agama besar dunia: Islam, Nasrani dan Yahudi. Di Indonesia, kita bisa membacanya dalam Alquran dan Alkitab. 

Konon, pada satu malam, raja mesir—yang biasa bergelar Fir’aun atau Pharaoh di masa Mesir kuno berabad-abad sebelum Masehi—bermimpi. Dalam mimpi tersebut, sang raja melihat peristiwa yang amat mengganggu pikirannya. 

Ketika tengah berdiri di pinggir Sungai Nil, sang raja tiba-tiba melihat tujuh ekor tujuh sapi gemuk muncul yang tak lama kemudian disusul oleh tujuh sapi kurus. Ketujuh sapi gemuk kemudian dimakan oleh tujuh sapi yang kurus. Kemudian sang raja bermimpi lagi. Di hadapannya tumbuh tujuh tangkai gandum dengan bulir-bulir yang bernas. Namun seperti halnya ketujuh sapi, munculnya ketujuh tangkai gandum berbuah bernas disusul oleh tumbuhnya tujuh tangkai gandum kering berbuah jelek dan memakannya.

Nabi Yusuf, yang tengah dipenjara karena fitnah, diminta untuk menafsir mimpi sang raja. Jawabannya, “… hendaklah kalian bercocok tanam selama tujuh tahun [dengan sungguh-sungguh]; di mana hasil panen tak boleh dimakan semuanya kecuali sekadar untuk dimakan. [Sebab] akan datang setelah itu tujuh tahun yang amat sulit, sehingga hanya akan tersisa sedikit saja persediaan pangan kalian sampai kembali turun hujan yang cukup [untuk bercocok tanam dan] kembali bisa memeras anggur." (QS. 12:47-49)

Mendengar dan melihat kebijaksanaan jawaban Nabi Yusuf, sang raja menjadi lega dan segera menyusun rencana. Tahanan berkebangsaan Ibrani yang tampan, gagah dan cerdik-cendikia itu kemudian diangkat sebagai wazir yang berwenang penuh untuk mengurus perbendaharaan negara. 

Singkat cerita, Nabi Yusuf menjalankan amanah raja dengan penuh tanggung-jawab. Setiap penduduk diperintahkan untuk memanfaatkan lahan semaksimal mungkin dengan bercocok-tanam dan memelihara ternak. Setiap jengkal tanah negara yang bisa ditanami digarap atas nama kerajaan. Nabi Yusuf membangun lumbung pangan negara dalam perhitungan yang ketat sehingga bisa mencukupi kebutuhan dalam masa paceklik selama tujuh tahun dan untuk menghadapi masa tanam setelah itu.

Ketika masa paceklik panjang melanda, negeri Mesir tetap bisa bertahan. Negeri-negeri sekitarnya, bahkan dari wilayah yang amat jauh dalam hitungan waktu perjalanan masa itu, terpaksa belanja bahan pangan ke Mesir. Secara geopolitik, kita tahu dari sejarah, Mesir pernah amat berjaya sebelum kemudian dianeksasi oleh Kerajaan Romawi.