News

Menyesal Jual Tanah, Warga Kampung Miliarder Tuban Kini Minta Diberi Pekerjaan

Kini, mereka mendatangi ring perusahaan patungan Pertamina dan Rosneft untuk menuntut diberikan pekerjaan.


Menyesal Jual Tanah, Warga Kampung Miliarder Tuban Kini Minta Diberi Pekerjaan
Potret Warga Kampung Miliarder di Tuban usai berbonodng-bondong beli mobil baru. (Dok. beritatrans.com)

AKURAT.CO Ratusan Warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim) yang menjadi miliarder usai menjual tanahnya ke PT Pertamina pada Februari 2021 dikabarkan menyesal telah menjual lahannya. Kini, mereka mendatangi ring perusahaan patungan Pertamina dan Rosneft untuk menuntut diberikan pekerjaan.

Hal itu diketahui saat unjuk rasa warga enam desa di ring perusahaan patungan Pertamina dan Rosneft asal Rusia, Senin (24/1/2021). Di antaranya warga Desa Wadung, Mentoto, Rawasan, Sumurgeneng, Beji dan Kaliuntu, Kecamatan Jenu.

Korlap aksi, Suwarno mengatakan, ada sekitar lima tuntutan dari masyarakat ring perusahaan dan mengatakan bahwa ada sekitar 100 massa yang melibatkan Karang Taruna dan aliansi warga enam desa, berdemo di ring perusahaan patungan Pertamina dan Rosneft. Mereka juga mempersoalan PT PRPP yang dinilai tidak kooperatif.

baca juga:

Sementara itu, Corporate Affairs PT PRPP Yuli Wahyu Witranta saat dikonfirmasi terkait aksi warga di ring perusahaan belum memberikan tanggapan detail. Dari upaya konfirmasi yang dilakukan, ia menjawab akan ada rilis.

Sebelumnya, Salah satu warga Kampung Miliarder di Tuban yang kini dihantu perasaan menyesal usai tanahnya dijual ialah Musanam (60), warga asli Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Berdasarkan pengakuannya ia mengaku menyesal telah menjual rumah adan tanahnya seluas 2,4 hektare dengan harga lebih dari Rp2,5 miliar.

Rasa penyesalan yang ia rasakan saat ini adalah ia tak lagi punya penghasilan tetap dan bisa bekerja lagi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama dengan keluarga, ia terpaksa harus menjual satu demi satu sapi ternakannya yang selama ini ia pelihara.

"Punya enam ekor sapi mas, sudah tak jual tiga ekor dan kini tersisa tiga. Sapi-sapi itu saya jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ucap Musanam di sela aksi demo di depan kantor proyek GPR Tuban.

Suwono sebagai koordinator warga mengatakan, pihak perusahaan mensyaratkan pekerja dari warga lokal harus di bawah usia 50 tahun. Padahal, janjinya pada saat proses pembebasan lahan saat itu perusahaan tidak menyampaikan adanya persyaratan yang mempersulit warga.

"Ada pembatasan persyaratan usia yang dilakukan pihak perusahaan di atas 50 tahun tidak diperbolehkan," kata Suwarno

"Ini gimana pekerja kasar aja tidak diperbolehkan, Tapi kenyataannya ada pekerja dari luar ring 1 yang usianya di atas batas umur yang ada," lanjutnya. []