Achsanul Qosasi

Anggota III BPR RI
News

Menyelamatkan UMKM, Menyelamatkan Ekonomi

Kuartal II ekonomi nasional 2020 menunjukkan kalau sektor pertanian dan UMKM terus memberi harapan di tengah pandemi.


Menyelamatkan UMKM, Menyelamatkan Ekonomi
Anggota BPK RI Achsanul Qosasi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Kuartal II ekonomi nasional 2020 menunjukkan kalau sektor pertanian dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus memberi harapan di tengah pandemi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dibanding Kuartal yang sama pada 2019, kontribusi pertanian naik menjadi 15,46 persen. Dibanding Kuartal I 2020, sektor pertanian tumbuh sebesar 16,24 persen.  

Sementara sektor industri, perdagangan, konstruksi dan pertambangan terus tumbuh negatif. Padahal, bersama sektor pertanian, keempat sektor ini menyumbang 65 persen perekonomian nasional. Sektor transportasi dan pergudangan terkontraksi 29,22 persen, industri 6,49 persen, perdagangan 6,71 persen, konstruksi 7,37 persen, dan pertambangan 3,75 persen.

Harapan penyelamatan ekonomi nasional berikutnya ada pada UMKM, jutaan usaha bermodal relatif kecil yang melibatkan dan menggerakkan ekonomi puluhan atau bahkan ratusan juta orang. Data BPS menunjukkan jumlah UMKM di Indonesia saat ini adalah 64 jutaan. Jumlah tersebut mencapai 99,9 persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia.

Ketika sebagian usaha-usaha berskala besar tiarap, gulung tikar, atau merengek-rengek kepada pemerintah pada krisis ekonomi 1998 dan 2008, UMKM dengan adaptabilitas yang mengagumkan bukan hanya bertahan, tetapi berkontribusi signifikan. Tak salah jika ekonom klasik Jerman, E. F. Schumacher, menyebut lembaga ekonomi rakyat ini sebagai Si Kecil Yang Indah—Small is Beautiful (2010).

Namun pandemi Covid-19 ini memang berbeda. Keberhasilan UMKM bertahan dan menyelamatkan ekonomi nasional dalam krisis 1998 dan 2008 sejauh ini belum tentu terulang sepenuhnya. Pandemi COVID-19 ternyata lebih dahsyat menghantam. Data yang pesimis konon menunjukkan 98 persen usaha mikro terdampak pandemi.

Dalam survei BPS 10-26 Juli 2020 terkait pandemi covid-19 ditemukan bahwa 84 persen usaha berskala kecil (UMK) dan 82 persen usaha menengah besar (UMB) mengalami penurunan pendapatan. Namun demikian, 59,8 persen UMK masih beroperasi, 24 persen melakukan pengurangan kapasitas, 10,1 persen  berhenti beroperasi, 5,4 persen bekerja dari rumah dan hanya 0,5 yang melebihi kapasitas. Sementara itu UMB yang masih beroperasi sekitar 49,4%, mengurangi kapasitas 28,8 persen, berhenti beroperasi 5 persen, bekerja dari rumah 16,3 persen dan juga hanya 0,5 persen yang melebihi kapasitas.

Dari segi pendapatan, hanya 13 persen UMK yang mengaku tetap dan 2 persen yang mengalami peningkatan. Sementara untuk UMB 14 persen menyatakan berpendapatan tetap dan 3 persen mengalami peningkatan. Karena tren kebutuhan, terutama faktor kesehatan dan kerja serta belajar dari rumah, lapangan usaha yang mengalami peningkatan adalah sektor industri dan perdagangan jamu-jamuan, masker, sepeda, serta internet. Sementara 92,47 pelaku usaha akomodasi, makanan, dan minuman justru terdampak dalam.

Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lebih pesimis. Ketika UMKM menyerap 97,02 tenaga kerja, sekitar 94,69 persen UMKM dinyatakan mengalami penurunan penjualan selama masa pandemi. Sementara itu, 72,02 persen UMKM diprediksi akan gulung tikar bulan November nanti.  

Ujian UMKM