Rahmah

Menunda Pemakaman Jenazah, Begini Penjelasan Ulama

Apakah menunda pemakaman jenazah boleh?

Menunda Pemakaman Jenazah, Begini Penjelasan Ulama
Gambar hanya ilustrasi (AKURAT.CO)

AKURAT.CO 

Ulama bersepakat bahwa menguburkan jenazah hukumnya adalah wajib. Pun pada dasarnya ketika ada orang wafat untuk segera dimakamkan, dan tidak boleh ditunda selama tidak ada alasan yang dibenarkan.

Ibnu Rusyd mengatakan keterangannya di dalam kitab Bidayatul Mujtahid halaman 227, sebagai berikut:

baca juga:

 أجمعوا على وجوب الدفن والأصل فيه قوله تعالى: أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتاً أَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً وقوله: فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَاباً يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ

Artinya: “Ulama menyepakati kewajiban pemakaman jenazah. Kewajiban ini didasarkan pada Surat Al-Mursalat ayat 25-25 yang terjemahannya ‘Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati?’ dan Surat Al-Maidah ayat 31 yang terjemahannya, ‘Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi."

Penegasan tidak bolehnya menunda penguburan jenazah kembali dipertegas dalam sebuah keterangan. Syekh M Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj mengatakan demikian:

 ولا تؤخر) الصلاة (لزيادة مصلين) للخبر الصحيح “أسرعوا بالجنازة “لا بأس بانتظار الولي عن قرب ما لم يخش تغير الميت 

Artinya: “(Tidak ditunda) shalat jenazah (untuk menambah jumlah jamaah [yang menshalatkannya]) berdasarkan hadits shahih ‘Segerakanlah jenazah’. Tetapi tidak masalah (menunda) dengan menunggu wali jenazah untuk sekian waktu sebatas tidak dikhawatirkan perubahan fisik jenazah,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa keterangan tahun], juz I, halaman 361).

Namun demikian, Syekh M Khatib As-Syarbini kemudian membolehkan menunda penguburan ketika ada alasan, seperti menunggu walinya. Dijelaskan berikut ini: 

وَلَا تُؤَخَّرُ) الصَّلَاةُ عَلَيْهِ أَيْ لَا يُنْدَبُ التَّأْخِيرُ (لِزِيَادَةِ الْمُصَلِّينَ) لِخَبَرِ “أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ” وَلَا بَأْسَ بِانْتِظَارِ الْوَلِيِّ إذَا رُجِيَ حُضُورُهُ عَنْ قُرْبٍ وَأَمِنَ مِنْ التَّغَيُّرِ 

Artinya: “(Tidak ditunda) shalat jenazah (untuk menambah jumlah jamaah [yang menshalatkannya]) berdasarkan hadits shahih ‘Segerakanlah jenazah’. Tetapi tidak masalah (menunda) dengan menunggu wali jenazah bila diharapkan hadir untuk sekian waktu dan kondisi fisik jenazah dipastikan aman dari perubahan,”(Lihat Syekh M Ramli, Nihayatul Muhtaj, [Beirut, Darul Fikr: 2009 M/1429-1430 H], cetakan pertama, juz III, halaman 31-32).

Dari keterangan di atas jelas bahwa jika tidak ada halangan atau alasan apapun yang dibenarkan, maka tidak boleh menunda menguburkan jenazah. Namun apabila ada alasan seperti menunggu walinya, selama jenazah tidak membusuk, maka dibolehkan. Demikian, semoga bermanfaat.

Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online