Ekonomi

Menteri ESDM Mau Kebut Pembangunan EBT, Seperti Apa Strateginya?

Menteri ESDM Arifin Tasrif mencatat pemerintah perlu mempercepat pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT) realisasi tahun 2020 baru sebesar 11,2%.


Menteri ESDM Mau Kebut Pembangunan EBT, Seperti Apa Strateginya?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat menyampaikan kata sambutan dalam acara Public Launching Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Public launching ini bertujuan untuk dapat melakukan diseminasi program-program Pemerintah Pusat dan Daerah maupun para stakeholder dalam mendukung pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. (Dokumentasi: Istimewa/ESDM)

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mencatat pemerintah perlu mempercepat pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT) realisasi tahun 2020 baru sebesar 11,2%.

EBT tersebut terdiri dari realisasi penggunaan listrik sebesar 7,38% dan non listrik (BBN) 3,82%. Adapun pada 2025 ditargetkan realisasi hingga 23%.

Ia menuturkan, berbagai negara saat sekarang sudah menyiapkan program-program yang agresif untuk meningkatkan bauran energi mereka.

Untuk itu, Arifin menerangkan, percepatan peningkatan bauran EBT difokuskan pada pemanfaatan EBT yang lebih cepat dibangun dengan harga kompetitif untuk mengejar target realisasi EBT.

"Berbagai negara di bawah kita realisasi EBT mulai mengejar ketertinggalan mereka dengan berbagai program," katanya saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (22/3/2021).

Kapasitas terpasang pembangkit listrik sampai dengan 2025 ditargetkan sebesar 101,6 GW yang terdiri atas 72 GW kapasitas terpasang saat ini, lalu ditambah dengan 29,6 GW sesuai draf RUPTL usulan pemerintah dengan target penambahan pembangkit EBT sebesar 11,7 GW.

"Percepatan pengembangan EBT perlu mempertimbangkan realitas kebutuhan energi keekonomian yang wajar dengan memberikan kesepakatan pertama kepada energi terbarukan, meminimalkan intermittency factor," ucapnya.

Beberapa upaya dalam rangka mempercepat pemanfaatan EBT antara lain penambahan kapasitas pembangkit EBT dengan fokus kepada PLTS, substitusi energi primer melalui biodiesel 30%, co-firing, dan pengolahan sampah berteknologi refuse drived fuel (RDF).

Selanjutnya, konversi energi primer fosil dengan pembangkit listrik EBT, biogas, dan pellet untuk memasak. Kemudian, mendorong pemanfaatan EBT non listrik dan non BBM, seperti briket, woodchip, pellet, dan pengolahan serta pengering produk pertanian.

Selain EBT, Menteri ESDM juga memaparkan realisasi bauran energi lainnya yakni batu bara sebesar 38%, minyak bumi 31,6%, dan gas bumi sebesar 19,2%. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu