Ekonomi

Menteri Edhy Ingin Program Cold Storage Tepat Sasaran


Menteri Edhy Ingin Program Cold Storage Tepat Sasaran
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (20/11/2019). Rapat tersebut membahas evaluasi pemeriksaan BPK Semester I Tahun 2019, pelaksanaan anggaran per Oktober 2019 serta rencana kerja program dan kegiatan Tahun Anggaran 2020. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menginginkan program untuk membangun "cold storage" atau gudang pendingin ikan di berbagai daerah dapat benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat untuk memanfaatkan stok ikan yang kini sedang melimpah di kawasan perairan nasional.

"Ada cold storage ditemukan BPK tidak tepat sasaran, karena sebelum BPK menyampaikan, Presiden juga mengingatkan kepada saya, memberi cold storage listriknya tidak ada," kata Menteri Edhy dalam siaran pers, Sabtu (21/12/2019).

Menurut dia, permasalahan seperti ini karena komunikasi yang tidak berjalan sehingga ke depannya diharapkan komunikasi antara pihak pusat dan pemerintah daerah juga dapat lebih lancar.

Edhy Prabowo menyatakan bahwa saat ini, komunikasi yang dilakukan pihaknya dengan berbagai kementerian lainnya tidak ada masalah.

Menteri Edhy juga mengingatkan jika stok tangkapan ikan di suatu daerah mengalami oversupply (pasokan berlebih), maka untuk segera memberitahu ke pusat.

"Jangan diam, beri tahu kami, apakah solusinya dibuat cold storage di lokasi itu atau dibikin rantai dingin supaya bisa mendekatkan cold storage di sekitar wilayah. Ini menjadi prioritas buat kita," ujarnya dilansir dari Antara.

Ia juga memaparkan, pihaknya ingin agar setiap kebijakan dari pusat agar benar-benar dipastikan diketahui pula baik oleh pihak kabupaten/kota maupun provinsi.

Sebelumnya, KKP bersama-sama PT Perikanan Nusantara menjajaki kerja sama terkait pengelolaan cold storage atau gudang pendingin di berbagai daerah.

"Sudah sepatutnya KKP dan Perinus bekerja sama sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan Indonesia," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di Jakarta, pekan terakhir November 2019.

Sementara itu, Direktur Utama Perinus M. Yana Aditya melaporkan perkembangan yang sudah dilakukan PT Perinus sejak berdiri para tahun 2005 silam melalui merger atas 40 perusahaan perikanan yang ada di Indonesia.

Menurut Yana, Perinus sendiri telah memiliki berbagai fasilitas yang tersebar di seluruh Indonesia seperti docking, integrated cold storage (ICS), unit pengolahan ikan, kapal perikanan, pabrik es, dan fasilitas pendukung lainnya.

Dengan adanya pengelolaan bersama fasilitas cold storage di berbagai daerah, maka diharapkan ke depannya sektor kelautan dan perikanan juga akan melesat, termasuk dalam hal perdagangan komoditas perikanan ke luar negeri.[]

Sumber: Antara