Lifestyle

Menparekraf Siap Bawa Tenun Tertua Asal Sulbar ke Mancanegara

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno akan membawa dan mempromosikan kebudayaan tradisional tenun sekomandi asal Sulawesi Barat ke mancanegara


Menparekraf Siap Bawa Tenun Tertua Asal Sulbar ke Mancanegara
Menparekraf Sandiaga berbicara dengan seorang warga Kalumpang-Mamuju yang masih melestarikan kain tenun Sekomandi, Sulawesi Barat (KEMENPAREKRAF)

AKURAT.CO  Tenun sekomandi asal Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan salah satu tenunan tertua, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia, dengan rentang usia 480 tahun lebih.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno pun bakal membawa dan mempromosikan kebudayaan tradisional Indonesia ini ke mancanegara melalui program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia di luar negeri.

Selain itu, Sandiaga juga akan  memberikan program pelatihan dan pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif di Rumah Tenun Sekomandi Mamuju Sulbar. Hal ini dilakukan untuk mendorong kebangkitan ekonomi dengan terciptanya peluang kerja yang lebih luas.

baca juga:

"Sarung tenung sekomandi adalah salah satu hasil kebudayaan tertua di dunia, berumur ribuan tahun yang mesti tetap dikembangkan sebagai kekayaan budaya bangsa," kata Sandiaga pada acara Manakarra Fair Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI), dikutip AKURAT.CO, Minggu (17/7/2022).

Lebih lanjut, Sandiaga Uno mengatakan bahwa dirinya bangga dengan masyarakat Sulbar yang terus mengembangkan sekomandi di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk.

"Masyarakat tetap mampu menghasilkan produk ekonomi kreatif di antaranya sekomandi untuk meningkatkan kesejahteraannya, ini membanggakan sekali," kata Sandi.

Kain tenun sekomandi memiliki arti spiritual di setiap corak dan warna benang yang digunakan. Adapun pembuatan kain tenun sekomandi dilakukan dalam tiga tahap, yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan.

Pertama, kulit kayu ditumbuk, lalu diolah untuk dipintal. Untuk pewarna, masyarakat Kalumpang-Mamuju menggunakan pewarna alami, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, kemiri dan beragam dedaunan, akar pohon.

Bahan-bahan tersebut kemudian ditumbuk, diracik, dan dimasak hingga mendapat warna yang diinginkan. Untuk warnanya sendiri, kain tenun sekomandi didominasi oleh warna cokelat merah dan krem, dengan warna dasar hitam. 

Terakhir, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna. Proses perendaman ini dilakukan setiap hari selama sebulan atau bahkan berbulan-bulan agar tidak luntur dan tahan lama.

“Rupanya tenun ini sudah dimotifkan menjadi jaket bomber. Ini yang nanti menjadi dress code kita di acara di sini (Manakarra Fair 2022) dan mudah-mudahan ini bisa memberikan inspirasi dan bisa memotivasi para UMKM lainnya,” kata Sandiaga.