News

Menlu Kulit Hitam Pertama AS, Colin Powell Meninggal Usai Terjangkit Covid-19

Colin Powell meninggal di usia 84 tahun.


Menlu Kulit Hitam Pertama AS, Colin Powell Meninggal Usai Terjangkit Covid-19
Dalam gambar ini, mantan Menlu AS, Colin Powell berbicara di kantor pusat eBay di California pada 2010 (Justin Sullivan / Getty Images)

AKURAT.CO  Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Colin Powell dilaporkan tutup usia karena komplikasi Covid-19. Powell meninggal di usia 84 tahun dengan pengumuman duka disampaikan oleh keluarga melalui Facebook pada Senin (18/10).  Dalam media sosialnya, pihak keluarga mengamini bahwa Powell tetap mengalami gejala berat Covid-19 meski sudah divaksinasi lengkap.

"Kami telah kehilangan suami, ayah, kakek, dan seorang warga Amerika yang luar biasa dan penyayang...Kami ingin berterima kasih kepada para staf medis atas perawatan mereka yang penuh perhatian," demikian bunyi pernyataan dari keluarga Powell.

Sebagaimana diwartakan BBC hingga CNN, Powell adalah mantan perwira tinggi militer yang naik menjadi Menlu pada tahun 2001. Saat itu, Powell menjabat di bawah pemerintahan George W. Bush dan menjadi menlu AS keturunan Afrika-Amerika.

Bush menjadi salah satu orang yang pertama memberikan penghormatan untuk Powell. Dalam pernyataannya, Bush mengatakan bahwa Powell adalah 'seorang pria penyayang keluarga sekaligus teman yang sangat disukai para presiden AS'. Karena itulah, menurut Bush, Powell bisa sampai mendapatkan penghargaan 'Medali Kebebasan' hingga dua kali. 

Powell lahir di Harlem pada 5 April 1937 dengan nama lengkap Colin Luther Powell. Ia lahir dari keluarga imigran Jamaika dan tumbuh menjadi prajurit profesional. Powell masuk Angkatan Darat AS setelah lulus pada tahun 1958, dan kemudian ikut berperang di Vietnam Selatan selama tahun 1960-an.

Selama perang itu, Powell terluka dua kali, termasuk saat kecelakaan helikopter di mana dia menyelamatkan dua tentara. Pada tahun 1987, ia dipromosikan menjadi brigadir jenderal dan ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional terakhir untuk Presiden Ronald Reagan pada tahun 1987-1989. 

Setelahya, ia dipercaya oleh George H. W. Bush untuk mengepalai Kepala Staf Gabungan Militer. Masa jabatannya dalam pemerintahan Bush ditandai dengan keterlibatannya dalam beberapa aksi militer Amerika yang paling menonjol pada akhir abad ke-20. Di antaranya, termasuk operasi Panama 1989, Perang Teluk 1991, hingga intervensi kemanusiaan AS di Somalia.

Powell sendiri pernah enggan untuk mengerahkan pasukan AS ketika Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990. Namun, ia kemudian menjadi salah satu juru bicara pemerintah yang paling dipercaya ketika serangan terhadap tentara Saddam Hussein datang.

"Pertama kita akan memotongnya. Kemudian kita akan membunuhnya," kata Powell yang terkenal pada konferensi pers saat itu, merujuk pada tentara Irak.

Setelah penyerangan itu, Powell menjadi semacam pahlawan nasional hingga menikmati peringkat persetujuan 71 persen dalam tahun pertama setelah perang. Usahanya selama perang itulah  yang lantas membuatnya mendapatkan dua penghargaan penting, yakni Medali Emas Kongres pada Maret 1991 dan Presidential Medal of Freedom.

Pada 2008 lalu, Powell yang seorang Republikan moderat, memutus hubungan dengan partainya. Putusan itu dilakukan Powell demi mendukung Barack Obama pada 2008. 

Powell telah lama dilihat sebagai penasihat militer terpercaya bagi sejumlah politisi terkemuka AS.

Namun, bagi banyak orang, dia selalu dikaitkan dengan  perannya yang menggalang dukungan untuk perang Irak. Pidato kerasnya yang kontroversial pada 5 Februari 2003 di Dewan Keamanan PBB, terus dikenang warga dunia. Saat itu, ia menyajikan bukti yang menurut komunitas intelijen AS membuktikan Irak telah menyesatkan para inspektur dan menyembunyikan senjata pemusnah massal.

"Tidak ada keraguan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata biologis dan kemampuan untuk memproduksi lebih banyak, lebih banyak lagi secara cepat," kata Powell memberi peringatan.

Namun, para inspektur kemudian tidak menemukan persenjataan semacam itu di Irak, dan dua tahun setelah pidato Powell di PBB, sebuah laporan pemerintah mengatakan komunitas intelijen 'salah besar' dalam penilaiannya atas kemampuan senjata pemusnah massal Irak sebelum invasi AS. Akan tetapi, kerusakan terlanjur sudah terjadi dengan AS berperang dengan hanya enam minggu setelah pidato Powell

Di kemudian hari, Powell mengakui pidatonya tersebut mengandung pernyataan tidak akurat dan itu menjadi 'noda dalam catatannya'.

"Itu menyakitkan. Sekarang menyakitkan," kata Powell kepada ABC News pada 2005.[]