News

Menkum HAM Sebut Ditjen AHU Sudah Terapkan WBK/WBBM di Sektor Pelayanan Publik


Menkum HAM Sebut Ditjen AHU Sudah Terapkan WBK/WBBM di Sektor Pelayanan Publik
Menkum HAM, Yasonna Laoly (kemeja putih), bersama Dirjen AHU Kemenkum HAM Cahyo R. Muzhar (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM), Yasonna H. Laoly, mengungkapkan bahwa pada 2018 lalu, pihaknya telah mengusulkan 13 satuan kerja berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM) kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB).

Berdasarkan pengusulan tersebut, Kemenpan-RB memberikan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) kepada 10 satuan kerja, salah satunya adalah Direktorat Perdata Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kemenkum HAM.

"Berkaca pada tahun lalu, pada tahun 2019 ini Kemenkum HAM mengusulkan 135 satuan kerja berpredikat WBK/WBBM termasuk Ditjen AHU," ungkapnya dalam keterangan resmi, Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Yasonna menjelaskan, pembangunan Zona Integritas menuju WBK/WBBM merupakan program pemerintah untuk percepatan pencapaian pemerintahan yang bersih dan bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi serta peningkatan layanan publik, sebagaimana Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi.

Dalam skala internasional, pembangunan Zona Integritas menuju WBK/WBBM merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia. Pada 2018, Transparency International mencatat CPI Indonesia berada pada skor 38 dari skala 100. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke 89 dari 180 negara, setara dengan negara Bosnia Herzegovina, Sri Lanka dan Swaziland.

"Skor tersebut berada di bawah Singapura (skor 85) dan Malaysia (skor 47) atau masih di bawah rata-rata Indeks Persepsi Korupsi negara-negara di dunia yang mencapai skor 43. Artinya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan dalam rangka meningkatkan skor CPI yang salah satunya dapat kita selesaikan dengan mewujudkan Zona Integritas pada sektor- sektor pelayanan publik," ujar Yasonna.

Dalam mewujudkan Zona Integritas menuju WBK/WBBM, Yasonna mengatakan, dapat ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan mewujudkan birokrasi digital pada unit pelayanan publik. Ditjen AHU sendiri saat ini mempunyai 93 jenis layanan hukum yang terdiri dari 47 layanan pada aplikasi AHU Online, 4 layanan semi online dan 43 layanan manual dengan nilai perolehan PNBP per tahunnya Rp800 miliar. Ke depannya, Ditjen AHU akan semakin memaksimalkan layanan online dengan membangun sistem terhadap layanan-layanan yang belum online.

"Tingkat kepuasan masyarakat atas layanan Ditjen AHU, pada tahun 2018 ini meningkat dibandingkan 2017 silam. Skor kepuasan masyarakat pada Tahun 2017 mencapai 3,45 dan pada Tahun 2018 mencapai 3,50 dari skala 4,0. Birokrasi Digital adalah kunci untuk meningkatkan kepuasan masyarakat atas layanan pemerintah," katanya.

Yasonna mengungkapkan, terbitnya Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 17 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma dan Persekutuan Perdata yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik, maka layanan Ditjen AHU menjadi bertambah.

"Layanan Persekutuan Perdata, Persekutuan Komanditer (CV), dan Persekutuan Firma saat ini terdapat dalam Sistem Administrasi Badan Usaha (SABU)," ungkapnya.

Yasonna menyampaikan, selain birokrasi digital, penandatanganan kerja sama antara Ditjen AHU dengan Bank Mandiri dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sebelumnya, Ditjen AHU sudah memiliki kerja sama dengan dua Lembaga perbankan yakni PT BNI dan PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Barat. Menambah kerja sama dengan PT Bank Mandiri bisa memudahkan masyarakat untuk melakukan layanan pembayaran PNBP.

"Ke depannya, program kerja lainnnya di Ditjen AHU khususnya dan Kemenkum HAM pada umumnya diharapkan dapat mendukung juga tercapainya 6 area perubahan sebagaimana Permenpan-RB Nomor 10 Tahun 2019 Tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK/WBBM dan Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah," ujarnya.

Yasonna menuturkan, Ditjen AHU sendiri baru saja menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 6 kementerian/lembaga, yakni PPATK, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kemen ATR/BPN, Kementerian Koperasi serta Kementerian Pertanian.

"Penandatanganan PKS ini menjadikan Ditjen AHU sebagai pusat data Badan Hukum dan Badan Usaha yang nantinya akan terintegrasi dengan sistem yang ada di 6 kementerian/lembaga tersebut," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Administrasi Hukum Umum Cahyo R. Muzhar, mengungkapkan bahwa dalam rangka menuju WBK/WBBM, pihaknya sudah melaksanakan program-program perubahan. Setidaknya ada 6 program perubahan yang sudah dilaksanakan. Pertama manajemen perubahan untuk mengubah secara sistematis dan konsisten mekanisme kerja, pola pikir, serta budaya kerja individu.

Kedua, penataan tata laksana untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisiensi dan terukur. Ketiga, penataan Sistem Manajemen SDM untuk meningkatkan profesionalisme SDM aparatur pada Zona Integritas menuju WBK/WBBM.

"Keempat, penguatan pengawasan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintah yang bersih dan bebas dari KKN. Kemudian kelima, penguatan akuntabilitas kinerja sebagai perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan dalam mencapai misi dan tujuan organisasi," ungkap Cahyo.

Cahyo menambahkan, program terakhir dan sangat penting di Ditjen AHU adalah peningkatan kualitas pelayanan publik sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kualitas dan inovasi pelayanan publik pada masing-masing instansi pemerintahan secara berkala sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.

"Pada akhirnya, perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Ditjen AHU diharapkan dapat mencapai hasil utama berupa peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas dari KKN, peningkatan pelayanan publik, serta diperolehnya predikat WBK/WBBM oleh Ditjen AHU," ujarnya.[]

Ainurrahman

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu