Ekonomi

Menko Darmin Bantah Harga Minyak Sawit RI Murah Karena Kualitasnya Rendah


Menko Darmin Bantah Harga Minyak Sawit RI Murah Karena Kualitasnya Rendah
Minyak Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditi yang menyebabkan pertumbuhan positif pada produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang di Papua (AKURAT.CO/Sudjarwo)

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan bahwa harga kelapa sawit Indonesia yang diekspor dengan harga murah bukan berarti kualitasnya rendah. Namun karena produktivitas kelapa sawit di Indonesia sangat tinggi.

Hal ini disampaikan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait kerangka keberlanjutan produksi minyak sawit dan perdagangan Indonesia-India antara Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) di kantor Darmin, Jakarta, Senin (16/7).

"Ekspor kelapa sawit ke India itu belum di semua lapisan dipakainya, karena harganya memang lebih murah sehingga masih ada kesan bahwa dari segi kualitas mutu kalah dengan minyak yang lain, padahal tidak," ujar Darmin.

Ia menjelaskan harga kelapa sawit Indonesia lebih murah karena memiliki produktivitas yang lebih tinggi tiga hingga empat kali dibandingkan di negara-negara lain.

"Kami ingin kerja sama dengan asosiasinya agar ada program menyosialisasikan bahwa harga lebih murah itu bukan karena kualitas lebih rendah, tetapi karena memang produktivitasnya lebih tinggi," ujar Darmin.

Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen besar kelapa sawit dunia dengan produksi sekitar 40 juta ton dan luas area mencapai 14,3 juta hektare.

Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, baik dalam bentuk minyak goreng dan produk hilir lainnya, maupun dalam bentuk bioenergi.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden SEA India Atul Chaturverdi mengatakan Nota Kesepahaman tersebut akan membuka jalan bagi keberlanjutan sektor perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan dalam jangka panjang di Asia.

"Saya yakin bahwa sinergi antara ISPO dan IPOS secara bersama-sama akan melindungi daya saing industri kelapa sawit, meningkatkan kesiapan menghadapi permintaan pasar di masa depan, dan memenuhi komitmen nasional terhadap produksi dan perdagangan kelapa sawit yang berkelanjutan," ujar Atul. []

Sunardi Panjaitan

https://akurat.co