Ekonomi

Menkeu: Sektor Keuangan Indonesia Sulit Diandalkan untuk Pembangunan Jangka Panjang

Dalam hal ini, dana jangka panjang menjadi pekerjaan rumah (PR) tambahan untuk pemerintah, terutama KSSK untuk membangun sektor keuangan.

Menkeu: Sektor Keuangan Indonesia Sulit Diandalkan untuk Pembangunan Jangka Panjang
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan yang diselenggarakan secara virtual pada Jumat (12/8/2022). (Tangakapan Layar YouTube)

AKURAT.CO Menteri Keuangan Sri Mulyani memandang sektor keuangan di Indonesia masih bergantung pada akumulasi dana jangka pendek. Hal tersebut menurutnya menjadikan dana tersebut sulit diandalkan untuk pembangunan dan perekonomian dalam jangka panjang.

Sri Mulyani mengatakan bahwa ini juga menyulitkan mereka pada saat kebutuhan pembangunan dan perekonomian, adapun pembangunan infrastruktur membutuhkan dana sangat besar menjadi terkendala.

"Ini sangat menyulitkan pada saat kebutuhan pembangunan dan perekonomian membutuhkan sumber dana yang jangka panjang," kata Sri Mulyani dalam acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan yang diselenggarakan secara virtual pada Jumat (12/8/2022).

baca juga:

Pembangaun infrastruktur membutuhkan dana yang besar karena diikuti oleh kemampuan pengembalian modal sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama antara 20 sampai 30 tahun.

Maka dari itu, Sri Mulyani mendorong kemampuan Indonesia untuk memupuk dana jangka panjang, karena hal tersebut dinilai sangat penting, terlebih sektor keuangan saat ini masih di dominasi oleh sektor perbankan, setidaknya ada 80 persen dana di sektor keuangan yang masih ada di perbankan dan berbentuk deposito dibawah 5 tahun.

"Sektor yang memiliki kemampuan mengakumulasi dana jangka panjang itu industri asuransi dan dana pensiun, kedua sektor ini kontribusinya terhadap keuangan Indonesia hanya 14 persen," ujar Sri Mulyani. 

Dalam hal ini, dana jangka panjang menjadi pekerjaan rumah (PR) tambahan untuk pemerintah, terutama KSSK untuk membangun sektor keuangan yang mampu memobilisasi dana jangka panjang yang kuat dan kredibel.

Sri Mulyani mengatakan bahwa peranan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mengelola fiskal dengan terus memperkenalkan instrumen keuangan mampu dilihat oleh para investor di Indonesia terutama investor ritel. 

Sri Mulyani memberikan contoh bahwa sejak tahun 2018, pemerintah konsisten menerbitkan instrumen sukuk hijau yang juga yang juga diterbitkan secara global yang mana penerbitan tersebut bernilai USD 5 miliar di mana angkanya lebih besar dari investor global.