News

Menkes Ungkap Permintaan 3 Jenis Obat Ini Melonjak 12 Kali Lipat Selama PPKM

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan terjadi peningkatan permintaan obat-obatan terapi Covid-19 hingga 12 kali lipat dari biasanya.


Menkes Ungkap Permintaan 3 Jenis Obat Ini Melonjak 12 Kali Lipat Selama PPKM
Seniman dan budayawan antusias mengikuti program vaksinasi di galeri nasional, Senin (19/4/2021). (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

AKURAT.CO  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan adanya peningkatan permintaan obat-obatan terapi Covid-19 hingga 12 kali lipat dari biasanya. Khususnya tiga jenis obat yaitu Azithromicin, Oseltamivir, dan Favipiravir.

Lonjakan permintaan itu seiring dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 sejak awal Juni, bulan lalu hingga saat ini. 

"Sejak Juni sampai sekarang telah terjadi lonjakan yang luar biasa dari kebutuhan obat-obatan. Lonjakannya itu sekitar 12 kali lipat," kata Budi dalam konferensi pers secara virtual, Senin (26/7/2021). 

Dia mengkalim sudah berkomunikasi dengan para pengusaha farmasi di dalam negeri. Pemerintah dan pelaku usaha, kata dia, telah menyiapkan langkah mengimport bahan baku obat, memperbesar kapasitas produksi, serta menyiapkan skenario distribusinya. 

"Tapi memang dibutuhkan waktu antara 4-6 minggu agar kapasitas produksi obat dalam negeri kita bisa memenuhi kebutuhan obat-obatan sebanyak 12 kali lipat ini," katanya. 

Dia berharap, awal Agustus tiga jenis obat itu sudah bisa masuk ke pasar secara signifikan. Sehingga kebutuhan obat masyarakat tercukupi. Dia mencontohkan obat Azithromicin yang saat ini stoknya sebanyak 11.4 juta tablet. 

"20 pabrik lokal memproduksi obat ini. Jadi sebenarnya kapasitasnya mencukupi. Memang ada sedikit hambatan distribusi yang sudah kita bicarakan dan sekarang setiap hari kita berkonsultasi dengan teman-teman di gabungan farmasi (GP) farmasi untuk memastikan agar obat azithromicin ini bisa masuk ke apotik-apotik," katanya. 

Sementara Oseltamivir, stoknya hingga Agustus diperkirakan12 juta tablet. Tetapi, kata dia, nantinya secara bertahap diganti oleh vafipirafier.

"Vavipifiravir akan mengganti oseltamivir sebagai ganti obat anti virus. Dan diharapkan nanti Agustus kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri antara 2-4 juta tablet per hari," katanya.

Demi mencegah penularan Covid-19, masyarakat terus diimbau untuk selalu mencuci tangan setelah menyentuh berbagai benda di tempat umum yang berpotensi disentuh banyak orang. 

Bila menggunakan masker secara benar sudah dilakukan dan mencuci tangan sudah rutin dilakukan, upaya lain yang harus digalakkan adalah menjaga jarak. Menjaga jarak ini juga cukup efektif untuk pencegahan penularan Covid-19.

Meski paling efektif mencegah penularan Virus Corona (Covid-19), aktivitas menjaga jarak kerap kali sulit dilakukan. Misalnya di transportasi umum karena keterbatasan ruang. Untuk itu, jaga jarak juga mesti dibekali dengan pakai masker agar efektif.

Tak hanya itu saja, sebisa mungkin masyarakat harus menghindari kerumunan yang berpotensi mempersempit ruang jaga jarak dengan orang lain yang tidak dikenal. 

Makanya, segala macam kegiatan yang bisa mengumpulkan orang dilarang selama pandemi Virus Corona (Covid-19) saat ini.

Secara umum, 3M adalah benteng utama bagi setiap orang untuk menghindarkan diri dari paparan Virus Corona, terlepas dari kondisi tubuh orang bersangkutan. 

Apalagi, imunitas seseorang berbeda-beda. Namun jika bentengnya kuat, pertahanan melawan virus ini bisa maksimal. Protokol 3M harus dilaksanakan secara masing-masing oleh semua orang tanpa terkecuali dalam kehidupan sehari-hari.[]