Lifestyle

Menkes Tegaskan Galon Tidak Mempengaruhi Peningkatan Infertilitas Masyarakat Indonesia

Studi disebutkan BPOM menyebutkan korelasi peningkatan infertilitas pada kelompok tinggi paparan BPA dari kemasan galon, tetapi tidak terjadi di Indonesia


Menkes Tegaskan Galon Tidak Mempengaruhi Peningkatan Infertilitas Masyarakat Indonesia
Ilustrasi galon (Healthline)

AKURAT.CO Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sempat membuat pernyataan yang sangat meresahkan masyarakat, dengan mengatakan bahwa air minum galon guna ulang mengkawatirkan bagi kesehatan dikarenakan perpindahan BPA dari kemasan pangan ke dalam pangan.

Akan tetapi, pernyataan itu hanya dengan mengutip hasil studi Cohort di Korea Selatan (Journal of Korean Medical Science) 2021, yang menyebutkan ada korelasi peningkatan infertilitas pada kelompok tinggi paparan BPA dengan odds rasio paparan penyakit mencapai 4,25 kali. 

Namun, hal ini ditepis oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Dirinya menegaskan bahwa air kemasan galon guna ulang aman untuk digunakan, baik oleh anak-anak dan ibu hamil.

baca juga:

Menurut Budi Gunasi, isu-isu seputar bahaya penggunaan air kemasan air guna ulang yang dihembuskan pihak-pihak tertentu adalah hoax.   

“(air kemasan galon guna ulang) Aman. Itu (isu bahaya air kemasan galon guna ulang) hoax,” tandas Budi Gunadi dalam keterangan pers, dikutip pada Senin (07/2/2022). 

Fakta di masyarakat juga tidak berkorelasi dengan narasi yang disampaikan BPOM. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disusun dari Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk Indonesia bahkan mengalami peningkatan cukup siginifikan dalam 10 tahun terakhir. 

Dari data BPS. ada penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata sebanyak 3,26 juta setiap tahun. Tingginya angka kelahiran ini menempatkan jumlah penduduk Indonesia berada pada urutan keempat terbanyak di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.  

Padahal, air minum galon guna ulang itu sudah mulai diedarkan pada tahun 1984. Artinya, jika benar air galon guna ulang ini bisa menyebabkan infertilitas, seharusnya tidak terjadi penambahan jumlah penduduk  di Indonesia tapi justru turun.

Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka kelahiran nasional pada Januari 2021 meningkat sekitar tiga ratus ribu. Menurut Kepala BKKBN Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, penyebab meningkatnya angka kelahiran karena terganggunya layanan penyediaan kontrasepsi dan konsultasi Keluarga Berencana selama wabah Covid-19.