Lasmardi Iswondo

Staf Ahli DPR
News

Menjaga Kemabruran Haji


Menjaga Kemabruran Haji
Para jemaah melakukan tawaf dengan menerapkan jaga jarak sosial untuk mencegah penyebaran virus corona (AFP)

AKURAT.CO, Selama ini kita mendoakan akan kemabruran ibadah haji saudara-saudara kita para jemaah haji. Kita juga berharap agar selepas menunaikan ibadah haji, mereka bisa istikamah menjaga kemabruran hajinya. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa upaya menjaga kemabruran haji semestinya adalah upaya kolektif kita bersama? Bukan sekadar tanggung jawab pribadi para jemaah haji. Kemabruran atau rusaknya ibadah haji saudara-saudara kita, bisa jadi disebabkan kita di tanah air ini.

Ada keterkaitan erat antara ibadah jemaah haji di tanah suci, dengan ibadah kaum muslimin yang tidak melaksanakan haji. Karenanya keutamaan ibadah di bulan haji ini tidak hanya terkait ibadah haji saja. Namun seluruh amal saleh di bulan haji ini diberikan pahala yang besar. Sehingga mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji pun berkesempatan meraih pahala berlipat ganda.

Rasulullah saw bersabda terkait dengan keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah:

baca juga:

"Tidak ada hari-hari untuk berbuat amal saleh yang lebih Allah cintai kecuali sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah," para shahabat bertanya, wahai Rasulullah, sekalipun Jihad fi sabilillah?, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam menjawab: "Sekalipun jihad fi sabilillah, kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad dengan harta dan jiwanya lalu tidak kembali sedikitpun dari keduanya." (HR. Tirmidzi)

Begitu juga Rasulullah saw bersabda terkait hari-hari tasyrik:

"Hari-hari Tasyrik (tanggal sebelas, dua belas dan tiga belas Zulhijah) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah 'azza wajalla." (HR. Ahmad)

Selain pahala amal saleh yang dilipatgandakan, maka dosa pun lebih ditekankan untuk dijauhi di bulan haji ini.

Allah Swt berfirman, yang artinya:

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa." (QS.At-Taubah [9]:36)

Dalam tafsir wajiz Kemenag diterangkan bahwa, "janganlah kamu menzalimi dirimu, baik melakukan peperangan maupun perbuatan dosa lainnya, terlebih lagi dalam bulan yang empat itu (Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, Rajab), karena dosanya akan dilipatgandakan. Namun larangan peperangan di bulan-bulan haram ini lalu dihapus hukumnya."

Dari tuntunan-tuntunan ini kita melihat betapa inginnya Islam menjadikan solidaritas kaum muslimin terjaga kuat. Yaitu agar sama-sama merasakan pengalaman ibadah dan ketaatan. Agar jangan sampai jemaah haji yang sudah ditempa dengan pendidikan paripurna dari Allah lalu menjadi hilang bekasnya tatkala pulang ke kampung halaman.

Sebab para jemaah haji sudah dididik untuk taat kepada Allah. Bahkan sesuatu yang tadinya mubah bagi mereka, menjadi haram selama mereka mengenakan ihram untuk haji dan umrah. Seperti dilarang mengenakan perhiasan dan wangi-wangian. Mereka pun diperintah menjaga lisan mereka agar tak berucap kotor. Sesuatu yang mungkin biasa kelepasan saat di luar ibadah haji, tetapi saat ibadah haji begitu dijaga agar tak merusak ibadahnya. Apalagi maksiat-maksiat besar, akan sangat-sangat dijauhi.

Maka jangan sampai kaum muslimin yang di tanah air ini malah berlaku sebaliknya. Jika kaum muslimin di tanah air justru berbuat maksiat tatkala jemaah haji sedang dididik menjauhi maksiat, rasanya itu mengkhianati perjuangan mereka mendapatkan kemabruran haji.

Rasanya juga akan kurang sempurna jika suasana tanah air tidak mendukung bagi terjaganya kemabruran haji. Walaupun insya Allah secara individu, tetap akan ada individu-individu yang bertambah kesalehannya selepas menunaikan ibadah haji. Namun jika dibarengi dengan kesalehan kolektif kaum muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji maka insya Allah lebih menjaga kemabruran haji mereka.[]