Kholis Bakri

Rahmah

Menjaga dan Mengembangkan Fitrah Anak

Sosok Ustaz Harry Santosa begitu menginspirasi banyak orang, terutama bagi keluarga yang merindukan untuk mendidik anak


Menjaga dan Mengembangkan Fitrah Anak
Ustaz Harry Santosa

AKURAT.CO Allah SWT telah memanggil Ustaz Harry Santosa. Minggu dini hari pada 27 Juni lalu, beliau wafat pada usia 52 tahun.

Usianya masih produktif, bahkan bisa dianggap sebagai puncak produktivitasnya. Sosoknya begitu menginspirasi banyak orang, terutama bagi keluarga yang merindukan untuk mendidik anak sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW.

Saya termasuk yang tercerahkan dengan konsep pendidikan berbasis fitrah (Fitrah Based Education/FBE) yang digagasnya. Saya pun biasa mengikuti berbagai seminar FBE yang dibawakan Ustaz Harry. Seusai seminar, saya biasa menemuinya sekadar bersalaman dan mengobrol banyak hal tentang parenting.

"Kegagalan keluarga dikarenakan tidak memiliki visi dan misi dalam keluarga," ungkapnya.

Dimulai dari seorang suami atau ayah yang harus memiliki tujuan hidupnya, kemudian diterjemahkan dalam bentuk visi dan misi hidupnya. Visi adalah sesuatu yang kita cita-citakan sebagai destinasi di masa depan. Sedangkan misi adalah apa yang mendorong kita setiap hari untuk mencapai tujuan itu. Visi hidup itu harus selaras dengan misi. Ustaz Harry menyebut bahwa misi sebagai alasan keberadan kita, karena itu harus lebih dahulu dan lebih penting dari visi. 

Ustaz Harry selalu bercerita kisah masa lalunya, saat ia sibuk bekerja di sebuah perusahaan. Saat itu, ia merasa jiwanya tertekan. Meskipun jabatan, gaji dan  berbagai fasilitas hidup lebih menggiurkan secara materi tapi tak membuatnya bahagia.

Akhir pekan baginya lebih membahagiakan karena setiap Sabtu, ia biasa mengajar dan menjadi pembicara di berbagai seminar. Ternyata, menjadi guru dan berbagi ilmu, inspirasi dan motivasi sebagai panggilan hidupnya. Akhirnya, ia pun memilih resign dari perusahaan itu, dan berkiprah di dunia pendidikan keluarga. 

Dalam suatu acara, Ustaz Harry sempat menawarkan kepada jamaahnya untuk konseling keluarga. Gratis. Terutama untuk berdiskusi merumuskan visi dan misi keluarga.

"Cukup saya ditraktir secangkir kopi aja, sambil ngobrol," ungkapnya kala itu.