News

Meninggal Dunia, Ini 5 Fakta Penting Perjalanan Hidup Ulama Alkhairaat Habib Saggaf

Wafatnya ulama yang begitu populer di Palu dan sekitarnya ini meninggalkan luka mendalam bagi para pegikutnya. 


Meninggal Dunia, Ini 5 Fakta Penting Perjalanan Hidup Ulama Alkhairaat Habib Saggaf
Habib Saggaf (Antara Photo)

AKURAT.CO Pemuka agama asal Palu, Habib Saiyyid Saggaf Muhammad Aljufri meninggal dunia pada Selasa (3/8) pukul 15.50 WITA di Rumah Sakit Alkhairaat, Palu. Pemimpin jemaah Alkhairaat tersebut meninggal dunia di usia 84 tahun. Wafatnya ulama yang begitu populer di Palu dan sekitarnya ini meninggalkan luka mendalam bagi para pegikutnya. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta penting perjalanan ulama Habib Saggaf Aljufri. 

1. Habiskan masa kecilnya di Pekalongan

Sosok Habib Saggaf ternyata begitu unik. Tanggal kelahirannya sama dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 17 Agustus, namun dirinya lebih dulu lahir tepatnya pada 17 Agustus 1937 silam. Sejak lahir hingga berusia 13 tahun, Habib Saggaf tinggal dan besar di Pekalongan, Jawa Tengah. Dirinya pun sempat belajar di Madrasah Arab Islamiyyah Pekalongan. 

2. Pindah ke Palu di usia 14 tahun

Ayah dari Habib Saggaf, Habib Sayyid Muhammad bin Idrus al-Jufr adalah seorang pedagang yang pernah mengajar di Solo. Pada tahun 1951, sang ayah memilih untuk tinggal di Palu bersama kakeknya, Habib Idrus bin Salim al-Jufri. Setelah di Palu, Habib Saggaf pun melanjutkan sekolah ibtidaiyah (SD) dan tsanawiyah (SMP) yang kemudian dilanjutkan ke Muallimin B dan Muallimin A. 

3. Biaya dakwah secara mandiri

Sejak lulus dari Muallimin, Habib Saggaf terus mengasah kemampuannya untuk berdakwah. Hingga akhirnya, dirinya memilih untuk dakwah ke wilayah timur dan selatan. Uniknya, setiap berangkat berdakwah, Habib Saggaf selalu membawa barang dagangan. Bersama dengan sejumlah muridnya, dirinya menjual barang dagangan tersebut di kota tujuannya. Uang hasil dagangan tersebutlah yang digunakan untuk membiayai perjalanannya. Bahkan untuk membantu masayarakat setempat mendirikan musala atau madrasah. 

4. Kuliah di Mesir hingga jadi anggota MPR

Pada tahun 1959, Habib Saggaf mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang ketika itu berangkat bersama Prof. Dr. Quarisy Syihab, Dr. Alwi Syihab, hingga Yahya Assegaf. Pendidikannya tersebut diselesaikan hingga mendapatkan gelar magister di univesitas yang sama pada tahun 1967. Setelah kembali, Habib Saggaf sempat menjadi anggota MPR dari Sulawesi Tengah hingga Ketua Majelis Ulama (MUI) Sulawesi Tengah. 

5. Wafat di usia 84 tahun

Habib Saiyid Saggaf bin Muhammad Aljufri dikabarkan meninggal dunia pada hari Selasa (3/8) pada pukul 15.50 WITA di Rumah Sakit Alkhairaat Palu, Sulawesi Tengah, di usia 84 tahun. Sebelumnya, Habib Saggaf sempat dirawat di rumah sakit tersebut selama beberapa waktu. Pemakaman digelar pada hari Rabu (4/8) di Kompleks Makam Guru Tua. 

Sosok Habib Saggaf dikenal sebagai ulama yang selalu memberikan ceramah dengan cara yang teduh. Tak hanya itu, Habib Saggaf juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan keadaan sekitarnya, terlihat dari sosoknya yang memilih untuk turun langsung ke tengah-tengah masyarakat ketika terjadi musibah di Palu beberapa waktu lalu.[]