Ekonomi

Menilik Strategi Bank Mandiri Persiapkan Layanan Perbankan Berpola Pikir Digital

Adanya lonjakan transaksi layanan digital di masyarakat akibat bergesernya kebutuhan.


Menilik Strategi Bank Mandiri Persiapkan Layanan Perbankan Berpola Pikir Digital
Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (19/7/2018). PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan pertumbuhan laba 28,7% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp9,46 triliun menjadi Rp12,17 triliun pada semester I-2018. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan adanya lonjakan transaksi layanan digital di masyarakat akibat bergesernya kebutuhan dari pelayanan konvensional ke digital. 

Dan industri yang secara masif merespon perubahan kebutuhan masyarakat ialah industri jasa keuangan. Dimana sektor ini banyak menghasilkan terobosan baru antara lain produk dan layanan baik perbankan maupun fintech peer to peer lending.

Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat pada acara diskusi webinar Multipolar bersama Infobank dengan tema IBM Power AI “Leading In Transformatiin With Service Improvement”, di Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Pada bulan Agustus 2020 saja, menurut data OJK yang disampaikan Teguh, terdapat peningkatan transaksi mobile banking sebesar 54,3% (YoY) atau 5,7% dari bulan sebelumnya menjadi 302,6 juta transaksi.

Tak hanya itu, peningkatan juga terjadi pada transaksi internet banking sebesar 49,3% secara tahunan atau masih tumbuh 4% bila dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 135 juta transaksi.

“Hal ini menandakan transformasi perbankan dari konvensional ke digital semakin pesat pasca pandemi. Dimana munculnya teknologi terkini menjadi fokus,” tegasnya.

Rico Usthavia Frans, Direktur Information Technology PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa perlunya Industri Perbankan mengadopsi pola pikir digital dan mengurangi pola pikir konvensional yang selama ini dilakukan. Menurutnya, pola pikir perbankan yang lama sudah tidak cukup dan tidak relevan di zaman digital.

“Di era digital, kita harus berhenti berpikir seperti bank. Padahal, kita mungkin harus berpikir seperti IT company yang kebetulan memiliki bank license,” kata Rico.

Selanjutnya, costumer experience (pengalaman nasabah) yang harus menjadi fokus utama perbankan. Di era digital, nasabah juga selalu menuntut perbankan untuk menyediakan layanan digital yang cepat, praktis, dan tanpa gangguan. 

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu