Ekonomi

Menilik Peran Indonesia dalam RCEP

Indonesia disinyalir merupakan inisiator RCEP ketika menjadi pemimpin ASEAN Tahun 2011


Menilik Peran Indonesia dalam RCEP
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) (Dok.RCEP)

AKURAT.CO Indonesia disinyalir merupakan inisiator RCEP ketika menjadi pemimpin ASEAN Tahun 2011. Melalui berbagai perundingan yang dilakukan sejak Tahun 2013 hingga penandatanganan 15 November 2020 lalu, Indonesia memiliki peran penting karena menjadi Ketua TNC (Trade to Negotiation Committee) atau Komite Perundingan Perdagangan untuk mencapai kesepakatan antar pihak sebelum RCEP ditandatangani oleh lima belas negara.

Akhir 2020 lalu, ADB membuat sebuah kajian Regional Comprehensive Economic Partnership: Overview and Economic Impact yang menempatkan Indonesia menjadi salah satu Negara ASEAN yang akan memperoleh keuntungan signifikan melalui RCEP di tahun 2030 dengan pendapatan sebesar 2.192 miliar dolar AS. Empat Negara non ASEAN diproyeksikan akan memperoleh pendapatan tertinggi melalui RCEP dengan urutan Tiongkok (27.389 miliar dolar AS), Jepang (4.924 miliar dolar AS), Australia (2.590 miliar dolar AS), dan Korea Selatan (2,243 miliar dolar AS).

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Rektor Unira Malang Imron Rosyadi Hamid menyatakan jika nantinya Indonesia sudah meratifikasi RCEP, persoalan yang harus dihadapi dunia industri dan perdagangan kita tidaklah mudah. Beberapa langkah yang perlu diambil adalah memperkuat daya saing industri dan perdagangan.

baca juga:

" Meskipun awal 2022 lalu Presiden Jokowi menyebut tingkat daya saing Indonesia versi IMD World Competitiveness naik tiga peringkat dibanding tahun lalu, tetapi masih berada di bawah beberapa negara ASEAN, "tuturnya.

Peningkatan daya saing ini tidak hanya diperlukan bagi industri berskala besar, tetapi juga UMKM yang akan menghadapi membanjirnya barang-barang impor dan sektor jasa dari negara-negara Anggota RCEP. Peluang-peluang impor dan ekspor harus terus dipacu untuk meningkatkan value supply chain industri dalam negeri kita.

" Peluang kerjasama dengan produsen bahan baku murah melalui skema impor dari negara-negara RCEP termasuk Tiongkok harus diarahkan untuk memperkuat sektor industri dalam negeri untuk kepentingan peningkatan nilai ekspor. Proses ini bisa berlaku secara resiprokal dan tentunya, saling menguntungkan, " bebernya.

Sekadar informasi, empat belas tahun sebelum Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) ditandatangani, duta besar Singapura untuk Amerika Serikat, Chan Heng Chee pernah memberikan pidato di Houston, Texas, dengan mengatakan bahwa hubungan Dinasti China dengan Asia Tenggara di masa lalu sebagian besar dilakukan dengan pendekatan soft power. Harapan kebangkitan di Asia Tenggara di tengah pandemi Covid-19 dengan ditandatanganinya RCEP, sebuah perjanjian kerjasama perdagangan terbesar oleh sepuluh negaraASEAN dan lima negara di sekitar kawasan, termasuk Tiongkok, pada 15 November 2020. Kelima belas Negara itu adalah Indonesia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Myanmar, Vietnam, Laos, Thailand, Kamboja, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, Australia, dan Selandia Baru.

RCEP juga melingkupi area planet bumi seluas 22,5 juta km persegi, dengan mengambil ceruk populasi dunia lebih dari 29,5 persen.

Tidak itu saja, keanggotan RCEP menguasai 29 persen PDB dunia dengan total nilai perdagangan lebih dari 10,6 triliun dolar AS. Wajar, RCEP dianggap sebagai perjanjian perdagangan terbesar dalam sejarah dunia di luar WTO (World Trade Organization).