Ekonomi

Mengubah Tarif CHT Dinilai Bukan Solusi Turunkan Angka Perokok, Terus Kenapa Mau Dinaikkan?

Mengubah Tarif CHT Dinilai Bukan Solusi Turunkan Angka Perokok, Terus Kenapa Mau Dinaikkan?
Pekerja menyortir rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di pabrik rokok PT Praoe Lajar yang menempati bekas kantor perusahaan listrik swasta Belanda NV Maintz & Co, di kawasan Cagar Budaya Nasional Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/2/2022). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

AKURAT.CO  Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, kenaikan tarif cukai hasil tembakau tidak bisa membuat orang berhenti merokok. 

“Ketika angka prevalensi masih tinggi di saat cukai terus dinaikkan, itu bukan berarti kebijakan cukai yang gagal tetapi karena ruang gerak kebijakannya yang terbatas. Kemudian, apakah dengan harga tinggi orang berhenti merokok? Tidak! Mereka malah beralih ke rokok yang lebih murah. Itu namanya dead weight loss atau excess burden,” kata Nirwala dalam keterangan persnya, Rabu (23/11/2022). 

Terkait persoalan perokok anak, Nirwala mengatakan, hal itu merupakan wilayah nonfiskal.

baca juga:

“Meningkatnya perokok anak dalam beberapa tahun terakhir, sementara mereka di rumah terus, berarti ada pengawasan orang tua yang dipertanyakan. Hal seperti ini tidak mungkin dijangkau dengan fiskal,” tegas Nirwala. 

Ia juga mempertanyakan, apakah masuk akal kalau harga rokok menjadi penyebab kemiskinan, tetapi rekomendasinya justru memahalkan harga rokok? Menurutnya, ini sangat lucu dan tidak masuk akal. 

Menurut Nirwala, ruang gerak DJBC sangat terbatas, karena pengendalian konsumsi rokok berada di wilayah nonfiskal. Dalam pengendalian konsumsi rokok sendiri, ada yang dinamakan tindakan preventif dan rehabilitative. 

"Dari dua jenis tindakan di atas, selama ini yang ada hasilnya hanya kebijakan cukai. Kalau key perfomance indicator (KPI) dari nonfiskal itu tidak searah dengan visi Presiden Jokowi, artinya koordinatornya tidak berfungsi baik," tegasnya.

Hal serupa juga diungkapkan psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Mira D Amir. Ia mengatakan, manusia itu adaptif. Ketika harga rokok dinaikkan, orang akan berpikir taktis dan mencari alternatif lain. 

“Ada juga yang bergeser ke rokok elektrik karena status, dengan klaim lebih bersih dan lebih sehat,” ujarnya. 

Menurut Mira, biasanya orang mulai merokok dari social learning. Ketika ada orang merokok di sekitarnya, maka ia mempelajari perilaku tersebut. Namun tidak semua berakhir menjadi perokok. Ada juga yang memang merasa tidak cocok dengan tembakau. Dan kalau dilihat dari perilaku masyarakat, biasanya mereka yang sudah menjadi perokok berat, akan berhenti karena faktor kesehatan. 

“Manusia itu cenderung berpikir bahwa penyakit akibat rokok yang terdapat dalam gambar peringatan di bungkus rokok, tidak terjadi pada dirinya, maka orang itu akan tetap merokok. Meskipun harga rokok terus dinaikkan,” ungkapnya.

Rencana kenaikan harga cukai rokok disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (03/11/2022). 

Sri Mulyani menyampaikan bahwa cukai rokok naik tertimbang 10 persen berlaku untuk tahun 2023 dan 2024. Kebijakan kenaikan CHT juga berlaku untuk rokok elektrik, dengan kenaikan rata-rata 15 persen untuk rokok elektrik dan 6 persen untuk HPTL, berlaku setiap tahun naik 15 persen selama 5 tahun ke depan. Menkeu mengaku, kenaikan tarif cukai ini dilakukan untuk menurunkan prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun menjadi 8,7 persen yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. []