Olahraga

Mengenang Tati Sumirah, Pahlawan Indonesia di Piala Uber 1975

Selama masa hidupnya, Tati Sumirah menghabiskan waktunya dalam keterbatasan ekonomi.


Mengenang Tati Sumirah, Pahlawan Indonesia di Piala Uber 1975
Legenda bulutangkis peraih Piala Uber 1975 untuk Indonesia, Tati Sumirah. (TRIBUN PONTIANAK )

AKURAT.CO, Tim Indonesia mulai bertarung di Piala Uber 2020 yang dihelat di Aarhus, Denmark, Sabtu (9/10). Namun, pencinta bulutangkis sepertinya perlu juga mengingat kabar pahlawa Indonesia ketika pertama kali menjuarai Piala Uber pada 1975.

Adalah Tati Sumirah yang turut dalam sejarah baru dalam sejarah bulutangkis putri Indonesia di Piala Uber 1975. Bagaimana kisah sang atlet yang meninggal dunia tahun lalu itu?

Secara total, Indonesia berhasil meraih 3 kali gelar Piala Uber pada tahun 1975, 1994, dan 1996. Sementara menjadi semifinalis sebanyak 7 kali (1969, 1972, 1978, 1981, 1998,2008).

Pada tahun 1975 skuat putri Indonesia berhasil tampil gemilang dengan mengalahkan Jepang 5-2. Tati Sumirah menjadi salah satu punggawa Tim Uber Indonesia.

Saat itu, Tati Sumirah sedang berada di masa kejayaannya. Dia menjadi peraih medali perunggu tunggal putri Kejuaraan Dunia 1971, menjadi runner up Singapura Terbuka 1972 dan masih banyak lagi.

Kendati sukses sebagai pebulutangkis, ada kisah pilu di balik legenda bulutangkis yang telah wafat pada Kamis (13/02/20) pukul 22.30 WIB tersebut.

Diketahui, mendiang Tati Sumirah wafat setelah dirawat selama sembilan hari di ICU RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dia mengidap kadar gula darah yang tinggi dan paru-paru. Selama masa hidupnya, waktunya dihabiskan dalam keterbatasan ekonomi.

Tati gantung raket pada tahun 1980-an. Saat itu, dia tak mendapat jaminan pensiun serta bonus apresiasi yang paspasan usai menjuarai Piala Uber 1975.

Tati gantung raket pada tahun 1980-an. Saat itu, dia tak mendapat jaminan pensiun serta bonus apresiasi yang paspasan usai menjuarai Piala Uber 1975.

"Dulu sih sejuta sudah mahal, tapi kita kan orangnya terima apa adanya,” ujar Tati kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT.com, pada November 2019.

Atlet Dulu Beda Sama Sekarang

 Dulu, menjadi atlet sukses sangat minim prestasi, berbeda dengan sekarang yang diapresiasi secara pantas. Hal itu diakui oleh Tati Sumirah sebelum wafatnya. Karena tidak mendapat dana pensiun, Tati Sumirah hanya bisa pasrah pada nasibnya.

Alih-alih kesal berlebih, dia hanya bisa bersyukur bisa hidup merawat sang ibu yang telah berusia senja, yakni 86 tahun. Uluran tangan keluarganya mampu membuat Tati Sumirah bisa menyambung hidup untuk keluarga kecilnya.

“Memang dari pemerintah nggak ada uangnya, uang pensiun. Sehari-hari saya di rumah saja, ngurusin orang tua. Saya di rumah sama adik paling bontot, itu yang belum menikah. Saya belum menikah juga, tapi ya sudah ngurusin orang tua saja. Saya orangnya nggak neko-neko,” ujar Tati Sumirah saat disambangi awak media olahraga INDOSPORT.com, beberapa waktu lalu.

Begitulah kisah pilu Tati Sumirah, legenda bulutangkis Indonesia yang mendapat minim apresiasi. Semoga kisah serupa tidak akan pernah dijjumpai lagi untuk para atlet Indonesia yang senantiasa berjuang untuk nama bangsa.  

Diketahui Indonesia akan berjuang untuk kembali merebut Piala Thomas-Uber edisi 2020 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark mulai hari ini, Sabtu (09/10/21). Semoga semangat Tati Sumirah semasa hidup bisa menular untuk Gregoria Mariska dkk.[]

Lihat Sumber Artikel di Indosport Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Indosport.com Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Indosport.com