Lifestyle

Nekoso, Upacara Perataan Gigi di Sulawesi Tengah Pertanda Anak Jadi Remaja

Nokeso adalah sebuah upacara adat menggosok gigi bagian depan hingga rata, diadakan bagi seorang anak yang telah menjelang usia remaja atau balig


Nekoso, Upacara Perataan Gigi di Sulawesi Tengah Pertanda Anak Jadi Remaja
Potret prosesi upacara nekeso. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

AKURAT.CO, Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah yang kaya budaya yang diwariskan secara turun temurun. Berbagai tradisi yang menyangkut segala aspek kehidupan masih terpelihara dalam kehidupan sehari-hari di wilayah ini.

Berbagai macam kepercayaan lama juga merupakan bagian dari warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam bentuk tradisi, ritual, ataupun upacara adat. Meskipun dalam pelaksanaannya telah banyak dipengaruhi oleh segala bentuk modernitas dan peranan agama.

Nokeso adalah sebuah upacara di Sulawesi Tengah bagi seorang perempuan yang telah menjelang usia baligh (nabalego), yaitu dengan menggosok gigi bagian depan hingga rata.

Biasanya, pelaksanaannya dilakukan tepat sebelum seorang perempuan mengalami menarche (haid pertama), kira-kira berusia 12 tahun. Apabila seorang gadis telah mengalami haid, biasanya orangtua akan merasa malu untuk mengupacarakannya. Namun karena tuntutan adat, upacara akan tetap dilaksanakan.

Anak remaja yang sudah menginjak usia 12 tahun wajib melewati tradisi ini. Sepanjang prosesi, mereka disebut sebagai Toniasa. Namanya berasal dari akronim tiga kata bahasa daerah setempat, yakni Tona nipaka asa, yang berarti seseorang yang buat tenang alias didewasakan.

Sebulan sebelum menjalani Nokeso, para Toniasa dikurung dalam sebuah tempat atau ruangan yang disebut Song'i. Mereka dilarang keluar dari tempat tersebut, apalagi menjejak tanah.

Selama "dikurung," Toniasa menjalani pendidikan disiplin menurut adat. Contohnya ketika hendak makan, minum, bangun tidur atau buang air, para Toniasa harus lebih dulu menabuh tambur atau meniup seruling bambu.

Dulu, bangunan/ruangan yang digunakan sebagai Song'i berupa bangunan bertangga bambu. Dinding-dinding ditutup menggunakan kain kulit kayu khusus yang disebut mbesa.

Tepat pada malam sebelum upacara puncak digelar, kuku-kuku tangan dan kaki para Toniasa diberi warna dengan pacar kuku oleh ayah si remaja (Langgai Ntoniasa). Pada saat bersamaan, lagu tradisional didendangkan oleh para orangtua yang hadir sembari diiringi alat musik atau tetabuhan.

Setelah prosesi yang lumayan panjang, akhirnya tiba juga hari di mana sang remaja putra atau purti yang telah berdiam dalam Song'i  untuk memasuki gerbang kedewasaan.

Tepat saat matahari sudah terbit, Toniasa digendong ke sungai untuk dimandikan lalu mengenakan pakaian adat, untuk mengikuti upacara Nekoso. 

Bagi seorang putri bangsawan, upacara Nokeso biasanya akan digelar secara besar-besaran oleh Ketua Dewan Adat Kerajaan selama tujuh hari tujuh malam dan melibatkan seluruh masyarakat desa.

Biaya pesta biasanya diperoleh dari bantuan rakyat yang disebut dengan pekasuvia, berupa hewan ternak, beras, sayur-sayuran, dan sebagainya.

Namun bagi rakyat biasa, upacara Nokeso akan dilaksanakan secara sederhana saja. Selesai dalam waktu sehari.

Nokeso dipimpin langsung oleh kepala adat dan berlangsung di balai pertemuan adat.[]