Lifestyle

Mengenal Upacara Pemberian Korban Yadnya Kasada

Ritual upacara adat Yadnya Kasada bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.


Mengenal Upacara Pemberian Korban Yadnya Kasada
Ilustrasi prosesi upacara adat yadnya kasada oleh masyarakat suku tengger di Gunung Bromo. (Instagram/victormordekhai)

AKURAT.CO, Wilayah Jawa Timur kayak akan warisan budaya, salah satunya yakni upacara adat Yadnya Kasada atau Kasodo.

Yadnya Kasada terbuka untuk umum dan seluruh masyarakat suku tengger dari agama apapun. Meski, upacara ini kental dengan ritual dan ajaran agama Hindu, tetapi bagi orang tengger, berkahnya tak hanya untuk orang-orang Hindu tetapi juga untuk semua orang.

Suku tengger telah menggelar Yadnya Kasada sejak kehadiran mereka di Tengger pada masa Kerajaan Majapahit sekira abad ke-13 M. Dikutip dari laman Indonesia Kaya, ada banyak versi tentang asal-usul orang Tengger.

Sudiro dalam “Legenda dan Religi Sebagai Media Integrasi Bangsa” di jurnal Humaniora, Vol. 13 No. 1 2001, menyebutkan dua versi: legenda dan sejarah.

Versi legenda menyatakan bahwa suku tengger berasal dari gabungan nama dua leluhur mereka: Rara Anteng (Teng), putri raja Brawijaya, dan Joko Seger (Ger), putra seorang Brahmana Kediri. 

Keduanya menikah dan hidup di sekitar wilayah Penanjakan, tak jauh dari Gunung Bromo. Namun, mereka tak punya anak untuk waktu lama. Hingga akhirnya mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Rara Anteng dan Joko Seger berjanji jika punya anak, salah satu anaknya akan dikorbankan. Tak lama kemudian, Rara Anteng hamil dan melahirkan. Anak mereka berjumlah 25. 

Setelah lahir, salah seorang anak mereka, Raden Kusuma, menghilang. Mereka kemudian mendengar suara Raden Kusuma keluar dari kawah Gunung Bromo.

Dari kejadian itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger dapat hidup aman sejahtera, bila pada waktu-waktu tertentu mereka akan memberi korban ke kawah Gunung Bromo.

Maksud “memberi korban” adalah mendermakan sebagian hasil panen dan ternak ke kawah Bromo. Inilah muasal upacara yadnya kasada. Versi legenda ini tak berbeda jauh dari versi sejarah.

Menurut sejumlah prasasti di sekitar pegunungan Bromo dan Negarakertagama, orang Tengger juga disebut telah bermukim di kawasan Tengger sejak masa Majapahit.

Ritual adat Yadnya Kasada bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Beberapa pengamat asing mencatat jalannya upacara ini pada rentang abad ke-19-20.

Tak banyak perubahan makna pada upacara Yadnya Kasada. Perubahan hanya menyangkut bentuk-bentuk sesaji dan rangkaian acaranya. Dahulu Kasada tak memiliki rangkaian acara lain.

Memasuki tahun 1980-an, orang-orang Tengger mulai menambahkan sejumlah mata acara tari-tarian dan musik tradisional.Selain itu, ada mata acara tambahan lainnya terkait dengan pengukuhan seseorang di luar Tengger sebagai warga kehormatan Tengger. 

Bahkan pada hari pelaksaam upacara adat ini telah muncul tradisi baru, yakni pengukuhan pejabat tinggi negara sebagai sesepuh dan warga kehormatan Tengger

Beberapa nama bisa disebut seperti Menko Polkam Soesilo Soedarman (1993-1998), Mendagri Amir Machmud (1969-1982), Menparpostel Achmad Tahir (1982-1988), Menteri Peranan Wanita Lasiah Soetanto (1983-1987) dan Menteri Agama KH Munawir Sjadzali (1983-1993). 

Sisanya pejabat tingkat provinsi dan daerah tingkat II. Orang-orang itu dikukuhkan oleh dukun pandhita atau pemimpin upacara adat dan keagamaan di Tengger. 

Menurut Nicolaas Warouw dkk, dalam "Inventarisasi Komunitas Adat Tengger", Kasada memiliki tiga tahapan besar. Pertama, pengambilan air (mendhak tirta) yang diikuti oleh tidak tidur secara bergantian, sampai pembukaan Kasada (makemit) dan menyucikan sarana dan alat Kasada (melasti). 

Kedua, pembukaan Kasada berupa pertunjukan sendratari. Ketiga, membuang sesaji ke kawah secara beriringan dan berbaris.

Setelah upacara selesai, sesaji dibawa dari kaki Gunung Bromo ke atas kawah. Masyarakat tengger melemparkan ke dalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Untuk dapat melihat upacara ini di Gunung Bromo, lebih baiik datang sebelum tengah malam, karena ramainya persiapan para dukun.[]