Lifestyle

Mengenal Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu

Tradisi Tuk Babon dilakukan untuk bentuk syukur


Mengenal Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu
Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

AKURAT.CO,  Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan.

Salah satunya adalah tradisi Tuk Babon, yang dilakukan oleh masyarakat di Lereng Merbabu.

Adapun Tuk berasal dari bahasa Jawa yang bermakna sumber mata air. 

Tradisi ini dilakukan oleh nenek moyang sebagai sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas sumber mata air Babon yang berada di lereng gunung Merbabu.

Berkat mata air tersebut, masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup dan pertanian.

Tuk Babon selama ini memang sudah menjadi sumber penghidupan warga di empat desa, yaitu Desa Selo, Samiran, Lencoh, Suroteleng, dan sebagian Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Tradisi Tuk Babon digelar dengan mempersembahkan Kenduri Kepung Tumpeng, penyembelihan kambing serta pertunjukan seni.

Awalnya, pemuda desa akan berkeliling sambil mengarak gunungan yang berisi hasil bumi seperti jagung, ketela dan aneka sayuran dan buah.

Setelah itu, mereka akan menuju Tuk Babon yang berjarak sekitar 1,5 kilometer di atas pemukiman warga.

Pemuka adat kemudian akan memanjatkan doa, dan dilanjutkan dengan penyembelihan satu ekor kambing.

Bagian kepala dan kaki ditanam, sementara bagian- bagian lain dimakan bersama-sama di area sumber mata air. 

Mengenal Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu - Foto 1
Tradisi Tuk Babon  ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Hasil bumi diletakkan di salah satu sudut paling suci di mata air sebagai bentuk sesaji. Ini merupakan simbol sebuah harapan dan pengorbanan warga untuk dapat menjaga sumber mata air Tuk Babon.

Mengenal Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu - Foto 2
Tradisi Tuk Babon  ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/tom
Mengenal Tradisi Tuk Babon di Lereng Merbabu - Foto 3
Tradisi Tuk Babon  ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/tom

Seorang warga kemudian mengambil air dengan kendi air dari sumber mata air itu kemudian didoakan.

Pemuka kemudian memercikkan air tersebut kepada warga. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni, berupa tari tradisional dan alunan gemelan.

Pada akhir acara, warga mengadakan kegiatan makan bersama gunungan yang yang tadi diiring- iring.

Adapun tradisi ini hanya diikuti oleh sejumlah warga melainkan juga sejumlah utusan abdi dalam Keraton Surakarta.[]