Lifestyle

Ruah Tempilang, Tradisi Perang Ketupat di Bangka untuk Usir Roh Jahat

Tradisi Perang Ketupat dari Bangka Belitung atau disebut juga ruah tempilang masih lestari di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung


Ruah Tempilang, Tradisi Perang Ketupat di Bangka untuk Usir Roh Jahat
Ilustrasi suasan perang ketupat yang disenggelarakan di Bangka. (Instagram/edotour_spartan3)

AKURAT.CO, Tradisi Perang Ketupat dari Bangka Belitung atau disebut juga dengan Ruah Tempilang masih lestari di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. 

Dikutip dari laman Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan (Kemdikbud), tradisi ini bertujuan meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 

Tradisi Perang Ketupat ini biasa digelar setiap masuk Tahun Baru Islam atau 1 Muharam di Pantai Tempilang, Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.

Acara ini juga digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.Tradisi Perang Ketupat juga biasa digelar pada bulah ruwah, atau bulan Sya'ban dalam kalender Hijriyah yang biasanya dimulai pada tanggal 15 Sya'ban atau minggu ketiga di bulan tersebut. 

Simbol dan makna dalam tradisi Perang Ketupat adalah ketupat yang mempunyai makna persatuan, kesatuan, kesadaran, dan kegotongroyongan.

Asal mula tradisi ini berawal dari banyaknya anak gadis asal Desa Tempilang yang diambil dan dimakan siluman buaya. Kondisi Desa Tempilang pada saat itu sangat mencekam dan sebagian masyarakat merasa ketakutan. 

Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa dukun berinisiatif untuk mengadakan ritual secara bersama–sama untuk mencegah terjadinya musibah yang lebih besar lagi. Dalam perkembangan selanjutnya, ritual tersebut oleh masyarakat Desa Tempilang dinamakan tradisi Ruah Tempilang atau Perang Ketupat. 

Tradisi ini dibagi menjadi beberapa prosesi.

Pertama, ada prosesi nganyot perae atau menghanyutkan perahu dengan makna untuk memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang ke Desa Tempilang, terutama yang bermaksud jahat, agar tidak mengganggu masyarakat Desa Tempilang. 

Lalu, ada prosesi ngancak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di laut, agar mereka tidak mengganggu aktivitas nelayan pada saat mereka pergi melaut. 

Selain itu, ada prosesi penimbongan yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat, agar mereka tidak mengganggu masyarakat setempat.

Selanjutnya, inti acara yakni upacara perang ketupat yang dilakukan di Pantai Tempilang, yang diawali dengan menampilkan Tari Serimbang.

Perang ketupat ini bisa juga dikategorikan sebagai ritual selamatan. Selamatan berasal dari bahasa Arab yang artinya selamat, sentosa, lepas dari bahaya. Sebab, tradisi perang ketupat terdapat hubungan dengan dengan integrasi sosial seperti bersih desa atau pembersihan dari roh jahat.[]