Lifestyle

Mengenal Tradisi Membuat Penjor dan Antar Makanan Ngenjot Saat Natal Di Bali

Perayaan Natal di Bali menyesuaikan diri dengan tradisi yang berlansung dna berlaku di Bali, dengan cara membuat penjor dan melakukan ngenjot


Mengenal Tradisi Membuat Penjor dan Antar Makanan Ngenjot Saat Natal Di Bali
Ilustrasi pemasangan penjor saat menuju Perayaan Natal di Bali. (Instagram/simantamotret)

AKURAT.CO Pulau Bali dikenal dunia Internasional, tidak luput merayakan Natal, walau sebagian warga di sana menganut agama Hindu. 

Toleransi beragama di Pulau Dewata itu masih terjaga, sehingga umat Kristiani bisa melaksanakan Natal dengan tenang.

Namun, perayaan Natal di Bali menyesuaikan diri dengan tradisi yang berlansung dna berlaku di Bali.

baca juga:

Umat Kristiani di Bali selain menghadirkan pohon cemara, mereka juga menghiasi tempat ibadahnya dengan penjor.

Hiasan penjor memang identik dengan Bali. Jadi pemeluk agama Kristen di Bali pun tidak asing dengan penjor.

Penjor merupakan simbol dari Naga Basuki yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran. Dikutip dari laman Input Bali, pada lontar Tutur Dewi Tapini juga telah disebutkan bahwa setiap unsur dalam penjor melambangkan simbol-simbol suci yaitu sebagai berikut.

Bambu sebagai vibrasi kekuatan Dewa Brahma

Kelapa sebagai simbol vibrasi Dewa Rudra

Kain Kuning dan Janur sebagai simbol vibrasi Dewa Sangkara

Pala Bungkah dan Pala Gantung sebagai simbol vibrasi Dewa Wisnu

Tebu sebagai simbol vibrasi Dewa Sambu

Padi sebagai simbol vibrasi Dewi Sri

Kain Putih sebagai simbol vibrasi Dewa Iswara

Sanggah sebagai simbol vibrasi Dewa Siwa

Upakara sebagai simbol vibrasi Dewa Sradha Siwa dan Parama Siwa

Karena banyaknya penjor dipasang selama Natal, tidak heran kesan yang tertangkap tidak jauh beda dengan Hari Raya Galungan umat Hindu.

Selain itu ada juga tradisi ngejot, yakni tradisi berbagi makanan di masyarakat Bali. 

Saat Natal tiba biasanya, umat Kristiani memasak makanan khas Bali dan membagikan makanan tersebut ke tetangga terdekat baik itu umuat hindu maupun beragam islam. 

Tradisi ini sendiri juga dilakukan oleh umat Hindu saat merayakan Galungan. Dan saat merayakan Natal di gereja, para jemaat biasanya akan mengenakan pakaian adat Bali.

Dalam menjalani tradisi ngejot ini, ada aneka makanan yang diantarkan. Tapi jenis dan jumlah makanannya bisa bervarian dan disesuaikan dengan hari besar yang dijalani. Tentu menu makanannya juga disesuaikan, sesuai dengan selera dan keagamaannya.

Biasanya makanan yang diantarkan berupa lauk matang, kue dan aneka buah-buahan segar. Ngejot bagi umat Hindu biasa memilih aneka lauk seperti urap Bali, lawar, olehan daging babi dan lain sebagainya. Sementara bagi umat Muslim, makanan ngejot biasanya berupa opor ayam dan ketupat.

Lain lagi saat umat Kristen merayakan Natal, menu makanannya juga berbeda, misalnya ada menu babi kecap yang diantarkan dengan nasi dan aneka lauk lainnya. 

Untuk menjalankan tradisi ini biasanya umat Kristen sudah berbelanja sejak pagi hari dan langsung mengolah masakan.

Biasanya saat makanan sudah matang di siang hari, hidangan ini bisa langsung diantarkan. Tradisi ngejot masih sangat kental dilakukan di desa-desa perdalaman Bali.