Lifestyle

Mengenal Tradisi Bakar Batu di Pegunungan Papua

Tradisi bakar batu juga dilakukan sebagai syukuran atas perdamaian


Mengenal Tradisi Bakar Batu di Pegunungan Papua
Potter tradisi bakar batu di Wamena, Papua. (Instagram/wamenabeautiful)

AKURAT.CO, Tradisi bakar batu merupakan tradisi turun temurun dari berbagai suku di Pegunungan Papua, termasuk warga kampung Wosilimo suku Dani di lembah Baliem ( Baliem Valley) Papua. Penamaan upacara bakar batu ini beragam. Pada suku Lani, acara bakar batu ini disebut lago lakwi.

Di perkampungan Wamena, masyarakat setempat menyebutnya kit ova isago. Warga beberapa suku Papua lainnya, termasuk suku Dani, mereka menyebutnya dengan sebutan Barapen.

Dikutip dari "Etnopedagogi Falsafah Bakar Batu di Tanah Papua" ditulis oleh Dinn Wahyudin dan Dr. Agus Sumule, upacara bakar batu merupakan upacara ritual dengan cara memasak bersama, yang bertujuan mengungkap rasa syukur kepada pemberi kehidupan atas karunia yang telah diberikan. 

Bakar batu juga sebagai alat silaturahmi dan ajang saling mempererat persahabatan sesama etnis di Papua. Upacara ini biasa dilakukan untuk menyambut acara keagamaan khusus seperti natal dan lebaran, atau kabar bahagia tentang apa yang sudah dialami. 

Pada masa lampau, upacara bakar batu ini dilakukan untuk mengumpulkan anggota suku untuk berperang atau melakukan pesta ritual, sebagai ungkapan kegembiraan setelah melakukan tugas peperangan antar suku. 

Bakar batu juga sebagai upacara kegembiraan atas dicapainya kesepakatan dan telah terjadi perdamaian antarkelompok yang sedang bersengketa atau terlibat konflik.

Dikutip dari laman Indonesia.go.id, upacara ritual masak bersama ini menggunakan media batu yang dibakar sampai membara. Ketika batu-batu sudah membara dia atas kayu yang dibakar, batu dimasukkan ke dalam lubang sedalam kurang lebih 50 cm yang sudah disiapkan dengan alas rumput. 

Di atas batu kembali dimasukkan rumput atau sayuran, menyusul daging, betatas, hipere (ubi), pisang juga dimasukkan ke dalamnya. Jika semua sudah masuk, kemudian ditutup kembali dengan sayuran dan rumput. Untuk mengikatnya, mereka menaruh batu-batu di atas tumpukan tesebut hingga matang. 

Dalam tradisi bakar batu terdapat makna mendalam, yakni sebagai ungkapan syukur pada Tuhan dan simbol solidaritas yang kuat. Bakar batu merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk mewujudkan rasa syukur kepada sang pemberi kehidupan.

Upacara bakar batu juga merupakan simbol kesederhanaan masyarakat Papua. Muaranya ialah persamaan hak, keadilan, kebersamaan, kekompakan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan yang membawa pada perdamaian.

Bahkan di komunitas muslim Papua, misalnya, di daerah Walesi Jayawijaya dan komunitas muslim Papua daerah lain, dalam menyambut Ramadan, mereka juga melakukan bakar batu. Namun media yang dibakar diganti ayam.[]