Lifestyle

Mengenal 3 Manfaat Dongeng di Hari Dongeng Nasional

Mengenal manfaat dongeng dari Penulis The Genius of Natural Childhood: Secrets of Thriving Children yakni Sally Goddard Blythe di Hari Dongeng Nasional


Mengenal 3 Manfaat Dongeng di Hari Dongeng Nasional
Ilustrasi mendongeng (Dok. Perpusnas)

AKURAT.CO, Tanggal 28 November diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional, tanggal ini bertepatan dengan hari lahir sosok multitalenta dan tokoh dongeng anak-anak yakni Pak Raden alias Drs. Suyadi.

Hari Dongeng Nasional pertama kali dideklarasikan pada 28 November 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang dijabat oleh Anies Baswedan. 

Kala itu, Anies menyampaikan, Hari Dongeng Nasional bertepatan dengan kelahiran Pak Raden artinya memastikan pesan-pesan figur pendongeng ternama tak lekang dimakan waktu.

Seperti diketahui, dongeng berperan besar dalam menjalin kedekatan antara orang tua dan anak. Tak hanya itu, dongeng mempunyai manfaat-manfaat lainnya. 

Berikut manfaat membaca dongeng dari Direktur Institute for Neuro-Physiological Psychology dan penulis The Genius of Natural Childhood: Secrets of Thriving Children yakni Sally Goddard Blythe, yang dilansir dari laman Telegraph. 

Anak Belajar Memahami Perasaan

Menurut Goddard Blythe, mengajak anak membaca dongeng penting bukan hanya karena menunjukkan kepada anak-anak bagaimana kehidupan, tetapi dongeng juga memperlihatkan perasaan takut dan sekaligus perasaan mempunyai cita-cita di dalam kehidupan melalui dunia fantasi. 

Dongeng memang hanya fantasi dan anak-anak belum mengerti apa dengan tokoh fantasi. Namun, masalah yang diceritakan serta perasaan yang dihadapi dalam dongeng tersebut, seperti ada di dalam kehidupan nyata.

"Dongeng bisa membuat anak memahami beberapa perasaan yang membingungkan dan sulit, yang mereka belum bisa ungkapkan," ujar Sally.

Menunjukkan Pentingnya Kebaikan

Sally mengatakan, sifat dongeng itu hitam-putih sehingga membantu anak-anak dalam mempelajari kehidupannya nanti, seperti dalam berperilaku dan moralitas.

Sebab, kisah-kisah dongeng yang selalu membahagiakan, bisa meyakinkan anak-anak bahwa pada akhirnya, semua akan baik-baik saja meski sang anak mempunyai masalah.

Pada saat yang sama, karakter protagonis yang baik biasanya dihargai di akhir cerita. Cara ini memperkuat pentingnya bersikap baik, bijaksana dan benar.

Misalnya saja, cerita pahlawan yang di tengah-tengah kisah mengalami kesulitan atau kesulitan di sepanjang jalan, tapi anak-anak yakin pahlawan itu akan berhasil. 

Sebaliknya, ibu tiri yang jahat, penyihir atau serigala yang umumnya membuat hidup semua orang sulit, bisa memberikan pelajaran hidup yang penting bagi anak.

"Belajar bahwa beberapa orang jahat di dunia belum tentu merupakan hal buruk bagi anak-anak," kata Sally.

Hidup Tidak Selalu Mudah

Sally mengatakan, dongeng memungkinkan anak-anak memahami bahwa hidup tak selalu mudah dan segala sesuatunya bisa serba salah. Serta orang-orang tidak selalu menyenangkan.

Anak-anak juga bisa mengambil pelajaran dari dongeng, soal betapa pentingnya mengembangkan keterampilan hidup dalam diri.

"Di The Ugly Duckling, misalnya, anak-anak mendengar tentang anak itik yang tidak sama dengan yang lain, dan bebek lainnya menggertak dan mem-bully. Mereka menyadari perasaan tidak pas ini, mereka memahaminya, berapa anak merasakan dalam segala situasi, apakah itu di hari pertama mereka di taman kanak-kanak atau sekolah, atau ketika mereka mencoba sesuatu yang mereka tidak yakin atau takuti. Jadi anak belajar berempati, belajar mengerti bahwa penting untuk bersikap baik," tutur Sally.[]