Tech

Mengenal Teknologi Face Recognition, Banyak Dipakai di Sistem Keamanan

Teknologi pengenalan wajah akan dipasang di Bandara Soekarno-Hatta.


Mengenal Teknologi Face Recognition, Banyak Dipakai di Sistem Keamanan
Ilustrasi pemindaian wajah melalui teknologi face recognition. (pixabay.com/tumisu)

AKURAT.CO Saat ini teknologi Face Recognition (FR) atau pengenalan wajah sudah semakin banyak diterapkan. Sebut saja pada saat proses registrasi peserta seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang menggunakan teknologi ini. Bahkan Face Recognition juga akan dipasang di Bandara Soekarno-Hatta. 

Teknologi face recognition sebenarnya sudah banyak diterapkan pada berbagai sistem keamanan. Misalnya, digunakan sebagai alat identifikasi, teleconference, pengamanan gedung, dan ATM. Termasuk untuk membuka kunci layar dan berbagai aplikasi pada ponsel.

Teknologi yang satu ini digunakan secara massal pada tahun 2021 di pagelaran Super Bowl 2001. Kalau itu, seluruh pengunjung yang hadir dipindai wajahnya menggunakan kamera CCTV khusus. Dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekerasan dan memudahkan penangkapan pelaku kejahatan yang beraksi dalam acara tersebut.

Dilansir dari laman ojs.unud.ac.id, face recognition merupakan teknologi biometrik yang banyak dimanfaatkan untuk sistem keamanan. Di mana sisitem ini menggunakan webcam untuk menangkap citra wajah manusia. Kemudian, hasil tangkapan tersebut akan dibandingkan dengan citra wajah yang pernah tersimpan sebelumnya. Dalam pencocokan wajah ini, terdapat dua bagian pengujian yaitu False Acceptance Rate (FAR) dan False Rejection Rate (FRR).

Secara lebih sederhana, cara kerja face recognition mirip dengan fingerprint. Hanya saja, dalam face recognition yang menjadi objeknya adalah wajah. Adapun cara kerjanya, yaitu pertama-tama teknologi face recognition yang terpasang pada kamera akan memindai wajah. Di mana pemindaian ini akan menyimpan data mulai dari bentuk mulut, hidung, bibir, rahang, mata, hingga ukuran wajah, dan seterusnya secara detail. Setelah itu, data hasil pemindaian wajah akan tersimpan di server khusus yang memiliki teknologi face recognition. 

Nantinya, saat kamera yang sudah menyimpan data pengguna tersebut memindai wajah, kamera tersebut dapat mengidentifikasi siapa orang tersebut berdasarkan data-data yang sudah tersimpan dalam database. Sementara itu, jika data seseorang belum tersimpan di database, maka wajahnya tidak akan dikenali. 

Pemanfaatan face recognition dinilai bisa menjamin data pribadi dengan sistem keamanan yang lebih baik. Sebab sistem biometrik akan memverifikasi data yang melekat pada tubuh seseorang, sehingga tidak akan terjadi human error. Selain itu, teknologi ini juga mudah terintegrasi dengan sistem, sehingga secara otomatis bisa dengan mudah mengindentifikasi data. 

Meskipun begitu, teknologi ini juga memiliki kekurangan. Misalnya, terkait privasi orang-orang yang wajahnya sudah di scan atau datanya sudah tersimpan di database. Dikhawatirkan data-data tersebut disalahgunakan dan dijual. Hal tersebut tentunya merupakan tindakan ilegal dan melanggar hukum. 

Selain itu, face recognition biasanya didesain beroperasi dari jarak jauh tanpa sepengetahuan (consent) dari orang yang diidentifikasi. Hal tersebut berisiko karena seseorang tidak bisa mencegah atau menolak upaya identifikasi. Terlebih jika teknologi tersebut digunakan untuk memindai secara diam-diam.