Lifestyle

Mengenal Suku Tidung yang Pernah Viral karena Uang Pecahan Rp75 Ribu

Tak hanya suku dayak, suku tidung merupakan suku asli Kalimantan, yang mana dulu pernah memiliki kerajaan bernama Kerajaan Tidung.


Mengenal Suku Tidung yang Pernah Viral karena Uang Pecahan Rp75 Ribu
Potret anak suku tidung, yang mirip dengan potret berada di pecahan uang Rp 75.000,- . (Instagram)

AKURAT.CO, Masih ingat potret anak dari Suku Tidung di pecahan uang Rp75 ribu, yang tahun lalu beredar? Baju adat Suku Tidung yang dipakai anak ini pernah ramai diperbincangkan, karena dianggap mirip baju khas China.

Jangan salah, ternyata baju adat yang dipakai anak di uang Rp75.000 itu adalah milik Suku Tidung, yang berasal dari Kalimantan Utara.

Tak hanya Suku Dayak, Suku Tidung merupakan suku asli Kalimantan, yang mana dulu pernah memiliki kerajaan bernama Kerajaan Tidung. Namun, Kerajaan Tidung punah akibat politik adu domba dari pihak Belanda.

Suku Tidung adalah salah satu suku asli Nunukan yang menganut agama Islam dan mengakui bahwa mereka merupakan orang Dayak. Hal ini berbeda dengan orang Suku Dayak yang telah memeluk islam, biasanya tidak menganggap diri mereka sebagai orang Dayak.

Namun, ternyata tak semua masyarakat Suku Tidung menyebut diri mereka sebagai keturunan Dayak. Ada juga yang menyebut diri dengan Tidung Ulun Pagun. Orang-oran ini tinggal di daerah pesisir.

Dilansir dari laman Historia, Suku Tidung merupakan subsuku dari etnis Suku Dayak Murut yang masuk dalam salah tujuh suku besar, yang tinggal di Kalimantan Utara. 

Nama Tidung diambil dari kata tiding atau tideng yang artinya gunung atau bukit. Namun, kebanyakan masyarakat Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam.

Dahulu, masyarakat Suku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau, Kalimantan Utara ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil di Kalimantan lainnya. Kegiatan berpindah-pindah Suku Tidung ini diprediksi sudah terjadi hampir 100 tahun yang lalu. 

Karena banyak melakukan perpindahan, maka Suku Tidung tidak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul nenek moyangnya seperti masyarakat etnis suku dayak di Kalimantan Utara. 

Namun, Suku Tidung masih punya kekekrabatan dengan etnis Suku Dayak lainnya. Salah satu bukti bahwa Suku Tidung masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Suku Dayak adalah masih adanya beberapa ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat.

Bahkan, masyarakat Tidung masih menjaga keseimbangan dengan alam dan terjaga hingga saat ini. Hal inilah, salah satu yang mencerminkan nilai spiritual Dayak. 

Unsur budaya dari luar seperti Bugis, Melayu dan Bajau secara perlahan diterima oleh Suku Tidung. Kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka.

Tak hanya ritual dan keprcayaan, ada beberapa kebudayaan Suku Tidung yang diunggulkan dan dibanggakan.

Salah satunya, seni pahatan yang ada pada unsur alat musik atau berbagai instrumen bangunan. Seni pahatan ini tak hanya ditemukan di rumah adat Suku Tidung yakni Rumah Baloy, perkantoran lembaga pemerintahan yang berada di wilayah Suku Tidung juga menggunakan seni pahatan Suku Tidung pada interiornya.

Tak hanya itu, Suku Tidung juga memiliki aneka jenis alat tangkap dan permainan. Ada beberapa ragam alat tangkap dan alat permainan di dalam masyarakat Tidung.

Alat tangkap masyarakat Tidung diantaranya, yakni Tamba (Kelong), Bintul (Ambau), Ubu (Keramba), Jala, Pukat, Apon (Pancing), Sesiyut (Tangguk) dan Isit-isit.

Sedangkan alat permainan Masyarakat Tidung antara lain begegala (asinan), beguli (kelereng), bitur, bebantung (lepokan), raga (takraw), tegasing (gasing), ketikan (ketapel), marak (kelayangan), yuyuan (yoyo), gumbak ula dan masih banyak lagi.[]