Lifestyle

Tambah Ilmu, Mari Mengenal Suku-Suku di Jawa Timur

Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa, selain itu ada suku lain. Berikut suku-suku yang mendiami wilayah Jawa Timur


Tambah Ilmu, Mari Mengenal Suku-Suku di Jawa Timur
Ilustrasi pakaian adat Jawa Timur (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Jawa Timur adalah provinsi terluas dibandingkan 6 provinsi lainnya di Pulau Jawa, dengan keberadaan jumlah penduduk yakni 40.665.696, serta memiliki luas wilayah 47.803,49 km².  

Wilayah Jawa Timur sendiri meliputi ujung timur Pulau Jawa, Pulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Kangean dan Pulau kecil lainnya. Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa. Selain itu ada Suku Madura, Suku Bawean, Suku Osing dan lain-lain. Berikut suku-suku mayoritas yang mendiami wilayah Jawa Timur.

Suku Jawa

Tentu saja, suku Jawa merupakan suku terbesar yang ada di Provinsi Jawa Timur. Bahkan, mereka tersebar di beberapa daerah lainnya melalui program transmigrasi yang disediakan pada thun 1980-an. Mayoritas orang Jawa adalah Islam, dengan beberapa minoritas Kristen, Kejawen, Hindu, Budha dan Konghuchu.

Tak diragukan lagi, suku Jawa sangat menjunjung tinggi kehormatan, keseimbangan dan keharmonisan. Terlihat dalam keseharian mereka yang berperilaku sopan nan sederhana.

Bahkan, ada kata-kata yang kerap dilontarkan oleh orang tua kepada orang lebih muda yang tidak punya sopan santun yaitu ‘Wong Jowo Ora Jawani’. 

Terdapat pementasan yang terkenal dari suku Jawa yakni pementasan wayang. Selain itu, seni batik dan keris juga merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa.

Suku Madura

Suku Madura kebanyakan mendiami Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda seperi Bondowoso dan Situbundo. Hampir semua orang Madura merupakan penganut agama Islam. 

Bahasa yang mereka pakai adalah Bahasa Madura dengan dialek Kangean, Sumenep, Pemekasan, Bangkalan, Probolinggo, Bondowoso dan Situbondo. Bahasa Madura juga mengenal tingkatan bahasa yaitu, bahasa kasar, menengah dan halus.

Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi tali kekerabatan, dan salah satu simbol yang mendukung tentang tali kekerabatan ini dapat dilihat dari denah sebuah rumah yang masih bersifat tradisional atau rumah - rumah adat yang terdapat di Madura. 

Selain itu, terdapat warna-warna khas batik tulis di daerah tempat tinggal masyarakat Madura yakni menggunakan warna-warna yang tajam dan kontras yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Madura. Salah satu warna yang menjadi ciri khas adalah warna merah. 

Tradisi membatik di Madura yang terkenal adalah Batik Genthongan. Disebut Genthongan karena proses pewarnaannya direndam terlebih dahulu kedalam wadah atau gentong besar.

Suku Osing

Suku ini berasal dari Kerajaan Blambangan yang merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Kata Osing sendiri atau Using artinya tidak atau dalam bahasa Jawa ‘Orak’. 

Kekhasan dan keunikan suku Osing ini terdapat pada keberagaman kebudayaannya, berupa pencampuran antara budaya Jawa, Madura dan Bali.

Kebanyakan suku Osing tinggal di Ujung Timur Pulau Jawa, sebagian besar terletak di Kabupaten Banyuwangi.

Suku ini memiliki beragam seni dan budaya serta sumber daya alam yang berlimpah. Terdapat tradisi kepercaaan suku Osing, antara lain, Jaran Goyan, Selametan Tumpeng Sewu. 

Suku osing memiliki kesamaan bahasa dengan masyarakat Suku Jawa pada umumnya, hanya dialegnya saja yang berbeda dengan masyarakat lainnya; ada percampuran dialek suku Madura dan suku Bali. 

Selain itu, kerajinan suku osing terbilang masih tradisional, yakni, motif batik gajah oling, tenunan dari serat pisang abaca sampai angklung paglak.

Suku Osing adalah salah satu dari sekian banyak suku di Jawa, terutama di Banyuwangi Jawa Timur yang masih menjaga, melestarikan dan melaksanakan kebudayaannya maupun adat dan tradisi. 

Suku Bawean

Suku bawean merupakan kelompok kecil masyarakat Melayu yang berasal dari Pulau Bawean. Siapa sangka, Bawean ini sering disebut Pulau Putri, karena banyak pria muda yang merantau ke Pulau Jawa atau ke luar negeri. 

Kata Bawean berasal dari bahasa sansekerta yang artinya ada sinar matahari. Kenapa bisa diartikan sebagai sinar matahari? Karena ada sekelompok pelaut Kerajaan Majapahit yang terjebak di laut Jawa dan terdampar di Bawean ketika matahari terbit.

Bahasa yang diterapkan oleh suku Bawean ini merupakan percampuran dalam bahasa melayu, bahasa Inggris serta bahasa Jawa.

Suku Tengger

Suku yang satu ini tinggal di tiga desa di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo yaitu Desa Jetak, Wonoronto, dan Ngadasari. Masyarakat ini disebut Suku Tengger karena daerah pemukiman mereka terletak di Pegunungan Tengger.

Setiap tahun, suku tengger mengadakan upacara Kasada, yakni upacara pemujaan kepada roh leluhur yang dilakukan di kawah Gunung Bromo. Orang Tengger masih memiliki citra agraris yang kuat. Disisi lain, tidak hanya pemandangan alamnya yang mempesona, tetapi juga memiliki kekhasan keagamaan dan adat istiadatnya yang kuat.

Suku Samin

Suku Samin mendiami wilayah Bojonegoro, Tuban, Jawa Timur dan tersebar di wilayah Blora Jawa Tengah. Suku ini mempunyai kepercayaan yakni disebut Saminisme, adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan Sedulur Sikep. 

Dulu, ajaran ini membuat orang suku Samin dianggap kurang pintar dan sinting. Kata Sedulur memiliki arti "saudara", dan Sikep adalah "senjata". Sedulur Sikep bermakna ajaran Samin yang mengutamakan perlawanan tanpa senjata dan tanpa kekerasan. 

Semua berawal dari masa penjajahan Belanda dan Jepang pada zaman dahulu. Sedulur Sikep artinya mereka mengobarkan semangat perlawanan kepada Belanda, dengan cara menolak membayar pajak dan semua peraturan dari pemerintah kolonial.

Masyarakat suku Samin sering kali memusingkan pemerintah Belanda dan Jepang dengan sikap ini, yang mana sampai sekarang masih suka dianggap menjengkelkan oleh orang asing.[]