Lifestyle

Mengenal Stress Eating, Makan Dengan Emosi

Jangan makan secara berlebihan!


Mengenal Stress Eating, Makan Dengan Emosi
Ilustrasi Makanan Korea atau Korean Street Food (gotravelly.com)

AKURAT.CO, Stres bisa mempengaruhi kesehatan fisik. Sebut saja, menurunkan sistem kekebalan tubuh, memicu sakit kepala, masalah pencernaan, hingga memengaruhi berat badan seseorang.

Menyoal berat badan ini, stres dapat berdampak langsung pada berat badan. Entah itu menyebabkan penurunan atau penambahan berat badan, dapat berbeda-beda dari orang ke orang. 

Pada beberapa kasus, stres menyebabkan kacaunya jadwal makan seseorang. Misalnya, seseorang yang dilanda stres biasanya cenderung melewatkan waktu makan. 

baca juga:

Bagi sebagian orang, stres membuat mereka kehilangan selera untuk makan.

Seringkali, perubahan ini hanya bersifat sementara. Berat badan mungkin kembali normal setelah pemicu stres berlalu.

Hal yang perlu ditegaskan, stres tidak hanya menyebabkan penurunan berat badan saja. Pada beberapa kasus, stres dapat memicu kenaikan berat badan karena mengalami stress earing

Pernah mendengar stress eating atau emotional eating? Seseorang yang mengalami kondisi ini akan makan secara berlebihan saat dalam kondisi emosional, tanpa disertai rasa lapar.

Pada kondisi ini, mereka makan secara emosional untuk melupakan masalah atau kesedihan yang sedang dihadapi.

Nah, bila dibiarkan terus-menerus, stress eating memicu kenaikan berat badan atau obesitas. 

Menurut sebuah studi yang dikutip dari Harvard Medical School, stress eating ini lebih umum dialami wanita ketimbang pria. Pasalnya, terdapat perbedaan gender dalam perilaku mengatasi stres. 

Wanita lebih cenderung beralih ke makanan saat dilanda stres, sedangkan pria ke konsumsi alkohol atau merokok.

Studi terhadap 5.000 pria dan wanita di Finlandia mengatakan, obesitas dikaitkan dengan pola makan terkait stres pada wanita, tetapi tidak pada pria. 

Dikutip dari laman Medical News Today, stres memicu kecanduan dan meningkatkan risiko penyakit. Stres kronis juga dapat mengubah pola makan dan memengaruhi pilihan makanan. 

Meski beberapa orang makan lebih sedikit saat sedang stres, tapi ada pula yang cenderung makan berlebihan dan mengasup makanan berkalori tinggi.

Saat stres terjadi, kelenjar adrenal melepaskan hormon yang disebut kortisol. Hormon stres ini juga meningkatkan nafsu makan dan memotivasi seseorang untuk makan, terutama makanan tinggi lemak, gula, atau keduanya. Nah, hal ini yang memicu kenaikan berat badan. 

Bila kamu punya kecenderungan stress eating, cobalah untuk menghentikan kebiasaan ini sebelum muncul gangguan kesehatan.

Apabila kamu kesulitan untuk menghentikan stress eating dan sudah mengalami gangguan kesehatan karena kebiasaan ini, seperti obesitas atau diabetes, berkonsultasilah dengan dokter atau psikolog.[]