Lifestyle

Mengenal Sejarah Tradisi Pembakaran Petasan Saat Imlek

Petasan memang membuat suasana lebih semarak lewat bunyi yang dihasilkan


Mengenal Sejarah Tradisi Pembakaran Petasan Saat Imlek
Petasan saat Tahun Baru Imlek di Singapura (Unsplash/Hua Thun Ho)

AKURAT.CO Melihat perayaan Tahun Baru China atau Imlek pasti tak asing dengan prosesi membakar petasan. Petasan memang membuat suasana lebih semarak lewat bunyi yang dihasilkan. Namun, ternyata ada sejarah di balik tradisi pembakaran petasan saat Imlek.

Dilansir dari laman China Highlights, kisah penemuan petasan bermula dari masyarakat Cina yang hendak mengusir roh jahat, yang memangsa penduduk desa yang bernama Nian. 

Petasan kala itu bukan seperti sekarang yang memakai mesiu, tetapi dengan tumpukan bambu-bambu utuh yang dikeringkan lalu dibakar sehingga timbul bunyi seperti petasan. Suara petasan ini berhasil mengusir Nian. 

baca juga:

Bubuk mesiu pada petasan baru ditemukan masa pada Dinasti Tang (618-907 M). kala itu, orang-orang memasukkan bubuk mesiu ke lubang bambu dan kemudian melemparkannya ke dalam api. Petasan yang dalam bahasa Mandarin disebut baozhu (ledakan bambu) itu, akhirnya lahir.

Berlanjut ke masa Dinasti Song (960-1279 M), bambu yang semula menjadi media untuk membakar mesiu akhirnya digantikan dengan tabung kertas. 

Kala itu, bubuk mesiu dibungkus dengan kertas merah. Warna merah dipilih karena dianggap menjauhkan manusia dari Nian.

Kini, petasan kerap digunakan dalam berbagai perayaan seperti tahun baru, pernikahan, ulang tahun, pembukaan bisnis dan lain-lain pada mayarakat Tionhoa. Petasan ini digunakan dengan harapan dapat membawa berkat dan kebahagiaan.

Berikut ini beberapa perayaan dan makna penggunaan petasan saat imlek:

Sebelum makan malam tahun baru imlek