Lifestyle

Mengenal Sejarah Kalimantan yang Disebut Tempat Buang Jin dan Hanya Dihuni Monyet oleh Edy Mulyadi

Benarkah Kalimantan hanya dihuni oleh Jin dan Monyet, seperti yang dikatakan Edy. Sejarah Pulau Kalimantan atau Borneo dimulai sejak tahun 45000 SM


Mengenal Sejarah Kalimantan yang Disebut Tempat Buang Jin dan Hanya Dihuni Monyet oleh Edy Mulyadi
Pemandangan di Provinsi Kalimantan Tengah (cakrawalatour.com)

AKURAT.CO Video mantan caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Edy Mulyadi, kembali viral di media sosial setelah adanya dugaan menghina Kalimantan.

Hal ini terungkap setelah dirinya secara tegas menolak rencana dipindahkannya Ibu Kota Negara (IKN) ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Edy yang pada saat itu bersama dengan Ahmad Khozinudin dan Azam Khan yang merupakan Pengacara Front Pembela Islam (FPI) dan sekaligus Pengacara Habib Rizieq Shihab ini, berada dalam satu pertemuan yang dihadiri oleh simpatisan lainnya menyinggung soal IKN Nusantara yang dipindahkan ke Kaltim.

baca juga:

Edy merasa bingung mengapa pemerintah memiliki rencana untuk memindahkan IKN dari Jakarta ke Kaltim, lalu ia merasa yakin bahwa tidak ada perusahaan yang enggan membangun rumahnya di Kalimantan. Bahkan menurutnya perusahaan pasti akan bingung memasarkan rumahnya pada siapa.

"Ini ada sebuah tempat elite, punya sendiri, yang harganya mahal, punya gedung sendiri, lalu dijual (kemudian) pindah ke tempat jin buang anak," ucap Edy, Minggu (23/1/2022).

"Sampean tinggal di mana om Azam, tinggal di mana, dimana Jakarta nya, mana mau dia tinggal di Gunung Sahari (lalu) pindah ke Kalimantan ke Penajam sana untuk beli rumah di sana. Gua mau jadi warga Ibu Kota baru, mana mau? Hanya monyet," lanjut Edy dan disahut oleh Azam.

Setelah viral, tanda pagar (tagar) #WargaKalimantanBukanMonyet bergema di lini medsos Twitter. Beragam respons dari warganet pun muncul. Tidak sedikit dari mereka yang mencibir hingga melayangkan protes terhadap pernyataan Edy.

Berikut pernyataan netizen melalui media sosial Twitter yang dihimpun langsung oleh AKURAT.CO, Senin (24/1/2022) di antaranya:

"Aku sebagai warga kalimantan juga sangat merasa tersinggung dengan yang diutarakan Pak Edy Mulyadi, mudahan segera diusut karena jujur merendahkan penduduk Kalimantan, especially Kaltim, #TangkapEdyMulyadiPKS #WargaKalimantanBukanMonyet," tulis akun @renonme. 

"#WargaKalimantanBukanMonyet Siapapun dia, mw ANGGOTA dewan, militer,sipil, kalo udah rasis.. TANGKAP!!!" cuit akun @Kyura863556262

"Respect others if you want to be respected #IndonesiaTanpaPKS #WargaKalimantanBukanMonyet," sahut @HerryNapit

Siapa yang tidak mengenal Pulau Kalimantan? Selain menjadi salah satu dari 5 pulau besar di Indonesia, Kalimantan merupakan pulau terbesar nomor tiga di dunia.

Lalu, benarkah pulau Kalimantan hanya dihuni oleh Jin dan Monyet, seperti yang dikatakan Edy. Dikutip dari kanal YouTube Lazuardi Wong Jogja, sejarah Pulau Kalimantan dimulai sejak tahun 45000 SM, saat gelombang populasi manusia pertama tiba di daratan besar ini.

Peradaban mulai tumbuh silih berganti, seperti Kerajaan Nan Sarunai yang menghuni Pulau Kalimantan pada abad ke 3 Masehi dan Kerajaan Kutai pada abab ke 4 Masehi.

Pada 35000 SM dimulainya dengan wilayah bernama Niah. Kemudian menjadi tiga wilayah pada 6000 SM, Niah, Lahad Datu, Sangkurilang.

Seiring waktu, Niah yang berada di atas Pulau Kalimantan melebar menjadi wilayah yang dikenal dengan nama Sarawak, yang dimulai pada 3500 SM.

Lalu, kawasan Barito muncul pada 3000 SM, peradaban terus berkembang hingga 500 M, terdapat wilayah Brunei, Kutai dan Berau yang mulai terlihat.

Pada 1500 M muncul wilayah Banjar yang sebelumnya Negara Daha, hingga wilayah yang berada di bagian bawah Pulau Borneo ini terus meluas cakupan kekuasaan wilayahnya.

Namun pada 1800 M muncul kekuasaan Hindia Belanda yang menggerus Tanah Banjar, disusul dengan kekuasaan Inggris di wilayah Brunei.

Kekuasaan Jepang muncul sekitar 1943 M yang menguasai hampir seluruh Pulau Kalimantan, hanya wilayah Serawak yang tetap berdiri.

Namun kemudian sekitar 1955 M Pulau Kalimantan terbagi menjadi tiga wilayah, Serawak, Indonesia, dan Inggris. 

Sekarang kumlah penduduk di Kalimantan pada tahun ini diperkirakan mencapai 16,23 juta jiwa. Menurut Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah tersebut terdiri atas 8,32 juta jiwa laki-laki dan 7,9 juta jiwa perempuan. 

Populasi di Pulau Kalimantan hanya sebesar 6% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa. Kalimantan Barat (Kalbar) tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Pulau ini.

Semantara itu, nama Kalimantan yang kini dikenal dan biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia juga memiliki beberapa versi sejarah.

Teori pertama dan dianggap paling valid, nama Kalimantan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘Kalamanthana’. 

Kata-kata ini memiliki arti sebagai ‘pulau yang memiliki hawa panas’. Karena vokal a pada kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantanatau Quallamontan, yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan. 

Sementara itu, sumber lain mengatakan, Kalimantan adalah nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan adalah pulau mangga. Namun kata itu dianggap berbau dongeng dan tidak populer.  

Adapun mangga lokal yang dimaksud itu memiliki nama klemantan yang sampai sekarang banyak terdapat di pedesaan daerah Ketapang, Kalimantan Barat. 

Ada juga pendapat dari seorang bernama Antropolog Inggris bernama A. C. Haddon  yang menyebutkan nama Kalimantan berasal dari nama-nama enam golongan suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut dan Punan. 

Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), haddon menjelaskan ‘Klemantan’ adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu.  

Sejarah juga mencatat penamaan Kalimantan memiliki keterkaitan dengan peristiwa politik, yaitu saat terjadi konflik Indonesia-Malaysia di tahun 1960. 

Ada juga penamaan Borneo yang merupakan penyebutan dari orang Eropa yang digunakan untuk menyebut pulau kalimantab secara keseluruhan, yang mana wilayah negara Brunei Darussalam dan juga sebagian Malaysia berada di pulau tersebut. 

Berbagai sumber dan literatur menyebutkan terdapat beberapa alasan mengapa Kalimantan disebut oleh orang luar negeri, dengan sebutan nama Borneo. 

Pertama adalah pendapat yang didasarkan pada banyaknya tumbuhan penghasil bahan baku minyak wangi dan antiseptik yakni Pohon Borneol, yang memiliki nama latin Dryobalanops Camphora.  

Bangsa Eropa yang datang ke Kalimantan pada Abad ke-15 banyak menemukan pohon tersebut, sehingga mereka menyebutnya dengan nama Borneo. 

Pendapat lain yang juga dianggap lebih valid dan banyak dipercaya orang adalah sejarah yang menyebutkan nama Borneo didasarkan pada pelafalan orang Eropa dalam menyebut Brunei, yang merujuk kepada negara Brunei Darussalam. 

Pada Abad ke-17, Brunei menjadi pelabuhan dagang penting bangsa Eropa karena letaknya yang strategis.

Banyak para pedagang dan penjelajah benua biru tersebut yang singgah di wilayah kerajaan Brunei Darussalam, dan mereka menyebut Brunei dengan sebutan Borneo.  

Pendapat tersebut diperkuat oleh catatan yang berasal dari seorang utusan Tiongkok, di mana pada abad ke-8 dan ke-9 Kalimantan dikenal dengan Po-Po-Li, Po-Ni, Bun-Lai. 

Untuk kata terakhir yakni Bun-Lai, memiliki tingkat kemiripan dengan penyebutan ‘Brunei’.