Lifestyle

Roti Buaya, Simbol Orang Betawi Gak Mau Kalah dengan Belanda

Roti buaya diyakini muncul di masa Koloial Belanda, tepatnya di abad ke 17 hingga 18, diciptakan untuk menjadi seserahan wajib pernikahan adat betawi


Roti Buaya, Simbol Orang Betawi Gak Mau Kalah dengan Belanda
Ilustrasi hidangan roti buaya untuk seserahan dalam acara pernikahan. (dianabakery.id)

AKURAT.CO, Selalu ada hal menarik mengenai sejarah Kota Jakarta. Tidak hanya budaya, Jakarta juga memiliki berbagai kuliner lezat yang menyimpan banyak sejarah, salah satunya adalah Roti Buaya.

Tidak ada catatan pasti mengenai tahun ke berapa Roti Buaya pertama kali diciptakan untuk menjadi seserahan wajib pernikahan adat Betawi. Namun, roti buaya diyakini muncul di masa Koloial Belanda, tepatnya di abad ke 17 hingga 18.

Roti buaya sendiri terinspirasi dari orang belanda yang mulai memasuki Indonesia khususnya di Batavia. Orang Belanda memiliki tradisi memberikan bunga dan cokelat kepada pasangan pengantinnya. 

Seolah ingin menandingi orang Belanda, terciptalah roti buaya sebagai bentuk hadiah kepada pasangan saat akan naik pelaminan. Roti dipilih karena saat itu roti merupakan makanan mahal dan ekslusif, yang hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan saja, bangsawan.

Menurut budayawan Betawi, J.J. Rizal, Roti Buaya memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Betawi. Jakarta yang dikelilingi oleh 13 sungai, membuat warga pada masa lalu sering berjumpa dengan buaya dalam aktivitasnya sehari-hari. 

Selain itu, buaya diyakini masyarakat Betawi sebagai perwujudan siluman yang bertugas untuk menjaga sumber air bagi warga Batavia kala itu. 

Tak hanya itu, terdapat makna dan filosofi lain bagi masyarakat Betawi. Berbeda dengan ‘Buaya Darat’, bagi masyarakat Betawi, buaya jantan sepanjang hidupnya hanya kawin sekali dengan satu pasangan betina sehingga buaya dianggap sebagai simbol kesetiaan.

Selain itu, buaya jantan juga dianggap merepresentasikan kegagahan serta kesabaran, dari kemampuan hewan melata tersebut yang mampu hidup di dua alam yaitu darat dan perairan, serta ketenangannya dalam menanti mangsa. 

Pada awalnya roti buaya tidak untuk dimakan, hanya sebagai simbolisasi seserahan saja. Sepasang Roti Buaya yang menjadi seserahan perkawinan akan dipajang hingga hancur dengan sendirinya. 

Hal itu menjadi representasi harapan dari pernikahan yang dilangsungkan, akan berlangsung awet hingga akhir hayat. Namun banyak pihak yang menilai, hal tersebut sebagai tindakan yang mubazir dan sia-sia. 

Roti buaya yang pada awalnya dibuat tawar dengan tekstur yang keras agar awet. Kini menjadi lebih lembut dan memiliki varian rasa seperti srikaya, keju atau cokelat.  

Kini, setelah prosesi ijab kabul, roti buaya kemudian menjadi santapan yang dibagi-bagikan kepada para tamu, khususnya para wanita lajang. 

Hal ini bermakna kebahagiaan pengantin akan turut serta dirasakan oleh yang lainnya, serta bagi yang belum menemukan jodohnya diharapkan akan segera mendapatkan pasangan dan menjalani pernikahan.  

Selain itu, Roti Buaya yang awalnya identik dengan acara pernikahan, kini menjadi kuliner yang bisa dinikmati kapan saja. Kamu bisa menjumpai roti buaya di beberapa toko roti di Jakarta seperti Toko Roti Tan Ek Tjoan di Cikini, Jakarta Pusat dan toko roti Holland Bakery. Roti Buaya juga bida di pesan online di Diana Bakery.[]